Menpar Siapkan Strategi Antisipasi Dampak Konflik Iran pada Pariwisata
Baca juga
- Investasi untuk Pemula: Prinsip, Cara, dan Checklist Lengkap
- KPK Periksa Pengusaha Rokok Muhammad Suryo dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai, Apa Dampaknya?
- Polres Maluku Tenggara Berhasil Tangkap Dua Pelaku Pembunuhan Tawuran di Kei Kecil
- Surat Edaran Menaker: WFH 1 Hari per Minggu tanpa Pemotongan Gaji

Kementerian Pariwisata Indonesia tengah menghadapi tantangan besar tahun 2026 akibat imbas perang di Iran dan gejolak harga energi global yang memicu kenaikan biaya transportasi. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan beberapa strategi mitigasi yang tengah disiapkan untuk menjaga target kunjungan wisatawan mancanegara tetap tercapai. Hal ini diungkapkan dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI pada awal April 2026.
Dampak Konflik di Iran pada Penerbangan dan Wisatawan
Penutupan wilayah udara Iran pada periode akhir Februari hingga akhir Maret 2026 memberikan dampak signifikan. Gangguan rute penerbangan terjadi terutama dari enam hub utama internasional yaitu Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat. Akibatnya, sekitar 770 jadwal penerbangan yang mengarah ke Jakarta, Bali, dan Medan dibatalkan.
Situasi tersebut berpotensi menyebabkan hilangnya sekitar 60 ribu kunjungan wisatawan mancanegara. Dari segi ekonomi, potensi devisa yang gagal masuk diperkirakan mencapai Rp 2,04 triliun. Menteri Widiyanti menegaskan bahwa kondisi geopolitik global ini memberikan tekanan yang nyata pada sektor pariwisata Indonesia.
Kenaikan Harga Energi Memperburuk Tekanan pada Sektor Pariwisata
Selain gangguan penerbangan akibat konflik Iran, kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi faktor lainnya yang memperbesar tantangan. Harga minyak yang melonjak dari 67 dolar AS menjadi lebih dari 102 dolar AS per barel dalam sebulan terakhir memicu kenaikan biaya transportasi internasional.
Akibat kenaikan ini, banyak maskapai internasional menerapkan biaya tambahan berupa fuel surcharge. Tarif moda transportasi lintas negara pun ikut meningkat. Hal ini secara langsung berdampak pada biaya perjalanan wisatawan mancanegara menuju Indonesia.
Strategi Kementerian Pariwisata dalam Menjaga Target 2026
Menanggapi tekanan tersebut, Kementerian Pariwisata merencanakan berbagai langkah strategis. Fokus utama diarahkan pada pergeseran pasar dengan lebih menitikberatkan pada kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, serta pasar medium-haul lain. Selain itu, penguatan kampanye digital internasional menjadi prioritas untuk memperluas jangkauan dan menarik wisatawan.
Selain penyesuaian target pasar, Kemenpar juga menilai pentingnya memperkuat konektivitas dan mendukung pergerakan wisatawan domestik sebagai mitigasi dari ketidakpastian global. Rencana tersebut disambut baik oleh Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaoan Daulay, yang juga mengingatkan pentingnya penguatan jaringan transportasi demi mendukung sektor pariwisata.
Di sisi lain, anggota Komisi VII, Putra Nababan, mengingatkan agar Kemenpar menggali lebih dalam mengenai pola perubahan perilaku wisatawan akibat penyesuaian strategi pasar. Misalnya, terdapat perbedaan preferensi antara wisatawan long haul dari Eropa dan Amerika dibandingkan dengan wisatawan medium haul dari Asia Timur dan Asia Selatan, serta short haul dari ASEAN.
Penutup
Meski tantangan besar menghampiri pada awal tahun 2026, Kementerian Pariwisata tetap optimistis dengan langkah-langkah mitigasi yang disiapkan agar target kunjungan wisatawan mancanegara dapat tetap tercapai. Perubahan strategi pasar dan peningkatan kampanye digital diharapkan mampu menepis dampak negatif dari konflik geopolitik dan gejolak harga energi. Namun demikian, sejumlah detail lebih lanjut mengenai efektivitas dan realisasi strategi tersebut masih belum dikonfirmasi.