DPR Soroti Pentingnya Dua Lapis Pertahanan Ekonomi: Jaga Stabilitas Harga dan Daya Beli Rakyat

Baca juga

DPR Soroti Pentingnya Dua Lapis Pertahanan Ekonomi: Jaga Stabilitas Harga dan Daya Beli Rakyat

DPR Soroti Pentingnya Dua Lapis Pertahanan Ekonomi: Jaga Stabilitas Harga dan Daya Beli Rakyat

diupdate.id - Ketika dunia masih dirundung ketidakpastian ekonomi global yang berat, pertahanan ekonomi Indonesia pun jadi sorotan utama. Tapi tahukah Anda, ketahanan ekonomi sebenarnya bukan hanya soal kurs rupiah yang naik turun melawan dolar? Anggota DPR Fraksi Gerindra, Azis Subekti, mengingatkan sebuah hal krusial: kekuatan ekonomi sejati ada pada daya beli dan kesejahteraan rakyat.

Fokus Pada Harga Kebutuhan Pokok, Bukan Sekadar Nilai Tukar Rupiah

Banyak perbincangan publik yang terjebak membahas nilai tukar rupiah setiap hari. Padahal, menurut Azis, sebagian besar masyarakat Indonesia justru lebih langsung merasakan dampak ekonomi lewat harga kebutuhan pokok seperti cabai, beras, minyak goreng, hingga ongkos transportasi. "Kalau rupiah melemah tapi harga bawang dan cabai tetap stabil, masyarakat masih bisa bernapas lega," ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 mencatat inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,08 persen—masih dalam batas terkendali. Namun, sobekan inflasi itu banyak berasal dari sektor makanan, minuman, dan tembakau yang terangkat hingga 4,94 persen, menyumbang 1,43 persen dari total inflasi. Lonjakan harga cabai merah sampai 25,64 persen dan minyak goreng naik hampir 3 persen jadi alarm bagi stabilitas pangan.

Penyebab Harga Melonjak: Lebih dari Sekadar Rupiah Melemah

Kenaikan harga komoditas ini tak melulu soal nilai tukar rupiah. Azis menunjuk pada masalah distribusi yang belum merata, cuaca ekstrem, rantai pasok yang panjang, serta biaya logistik yang meroket sebagai faktor penggerak utama. Ditambah lagi ketidakseimbangan produksi antarwilayah yang sulit diatasi dengan segera.

Dua Lapis Pertahanan Ekonomi: Menjaga Daya Beli dan Stabilitas Harga

Azis menegaskan bahwa Indonesia perlu membangun dua lapis pertahanan ekonomi. Pertama, menjaga daya beli masyarakat agar mereka tetap mampu memenuhi kebutuhan kebutuhan dasar. Kedua, memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok agar inflasi di sektor pangan tidak mengguncang kehidupan sehari-hari. Sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa negara seperti Jepang dan Korea Selatan berhasil tumbuh dengan baik meskipun menghadapi tekanan mata uang, berkat fokus pada kapasitas produksi, teknologi, lapangan kerja, dan kontrol inflasi.

Dampak dan Analisa: Fokus Pada Pangan Adalah Kunci

Melihat fakta bahwa melonjaknya harga pangan merupakan penyumbang utama inflasi, jelas bahwa medan pertempuran ekonomi utama saat ini berada di sektor pangan. Ketidakstabilan harga kebutuhan pokok berpotensi merusak daya beli dan mengganggu kesejahteraan masyarakat kelas menengah ke bawah, yang rentan terhadap fluktuasi harga. Dengan fokus strategis pada distribusi pangan, penguatan rantai pasok, dan kebijakan kendali harga, pemerintah dapat memperkokoh ketahanan ekonomi nasional dari dalam.

Ringkasan

Dalam menghadapi tekanan ekonomi global, ketahanan ekonomi Indonesia tidak cukup diukur dari nilai tukar rupiah saja. Menurut Azis Subekti, menjaga daya beli rakyat dan stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi dua pilar penting pertahanan ekonomi bangsa. Inflasi pangan yang tinggi mengindikasikan tantangan serius dalam distribusi dan produksi komoditas penting. Oleh karena itu, memperkuat dua lapis pertahanan ini menjadi kunci agar Indonesia tetap tangguh secara ekonomi dan masyarakatnya tetap sejahtera.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan dua lapis pertahanan ekonomi menurut Azis Subekti?

Dua lapis pertahanan ekonomi adalah menjaga daya beli masyarakat dan memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok agar ketahanan ekonomi tetap kuat.

Mengapa harga kebutuhan pokok jadi fokus utama ketahanan ekonomi?

Karena kenaikan harga kebutuhan pokok langsung dirasakan masyarakat dan berpengaruh besar pada kesejahteraan serta inflasi nasional.