Komisi III DPRD Kota Bandung Dorong Warga Hidup Ramah Lingkungan Untuk Kurangi Sampah
Baca juga
- Banjarmasin Dapat Dukungan Strategis Pemprov Kalsel Tangani Krisis Sampah 2026
- Wisata Edukasi Penyu di Sambas: Melihat Langsung Upaya Pelestarian Tukik yang Menginspirasi
- UMJ Dorong Aksi Kampus Hijau Lewat Gerakan MemBumi 2026
- Tender Proyek Banyuwangi Hijau: Penyelesaian TPS3R Purwohajo Siap Sambut Teknologi Baru
- Jamur 'Pembasmi' Lumut Invasif Bisa Pulihkan Habitat Alami di Inggris

Komisi III DPRD Kota Bandung Dorong Warga Hidup Ramah Lingkungan Untuk Kurangi Sampah
diupdate.id - Pernahkah kita membayangkan bagaimana pola hidup di masa lampau yang terlihat jauh lebih ramah lingkungan? Komisi III DPRD Kota Bandung kembali mengingatkan pentingnya mengadopsi kembali gaya hidup tersebut demi mengatasi permasalahan sampah yang makin kompleks di perkotaan.
Memaknai Kembali Gaya Hidup Sederhana dan Minim Sampah
Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Nina Fitriana, dalam sosialisasi penanganan sampah yang digelar di Taman Film Bandung akhir pekan lalu, mengajak masyarakat menghidupkan kembali tradisi pengelolaan sampah ala waktu dulu. Pada masa sebelumnya, sampah organik tidak menjadi beban karena biasa langsung ditimbun di pekarangan rumah. Dengan demikian, limbah organik terkelola secara mandiri dan volume sampah yang dibuang ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) sangat terbatas.
Nina menjelaskan, kebiasaan menggunakan bahan alami harian seperti alas makan dari daun hingga penyimpanan air minum dengan wadah tradisional adalah bagian dari pola hidup minim limbah yang sudah terlupakan. Selain itu, penggunaan plastik dan kertas yang belum masif mendukung rendahnya angka produksi sampah.
Strategi Pengelolaan Sampah Organik di Tingkat RT
Menyadari tantangan zaman modern, Nina menegaskan tidak semua kebiasaan lama bisa diterapkan utuh. Namun, prinsip utama pengelolaan sampah di lingkungan rumah harus tetap diutamakan. Salah satu solusi konkret yang ia dorong adalah pembentukan lubang kompos di setiap Rukun Tetangga (RT), sehingga sampah organik dapat diolah langsung dan tidak menumpuk di TPS.
"Dengan adanya pengolahan sampah organik di tingkat RT, volume sampah yang berakhir di TPS dapat berkurang secara signifikan," ujar Nina, menggarisbawahi pentingnya peran aktif warga dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Dampak dan Pentingnya Kesadaran Kolektif
Langkah ini tidak hanya mengurangi beban pengelolaan sampah oleh pemerintah, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang lebih sehat dan bersih. Nina menambahkan, pengelolaan sampah yang baik bisa memberi dampak positif pada kenyamanan warga, seperti yang diharapkan terjadi di kawasan bawah Jembatan Pasupati.
Dengan kolaborasi antarwarga dan pemerintah, kawasan tersebut diharapkan menjadi area yang tertata rapi, bersih, dan nyaman untuk berbagai aktivitas masyarakat.
Ringkasan
Upaya Komisi III DPRD Kota Bandung mengajak warga menerapkan pola hidup ramah lingkungan adalah langkah strategis menekan pertumbuhan sampah di kota. Pengelolaan sampah organik secara mandiri di tingkat lingkungan dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci menciptakan Bandung yang lebih bersih dan berkelanjutan. Kesadaran bersama dan adaptasi nilai-nilai sederhana masa lalu, yang minim limbah, mampu memberi solusi nyata di tengah perubahan gaya hidup modern.
FAQ
Apa yang dimaksud pola hidup ramah lingkungan ala masa lalu?
Pola hidup ramah lingkungan ala masa lalu mengacu pada kebiasaan menggunakan bahan alami, minim limbah, seperti menimbun sampah organik di pekarangan dan mengurangi penggunaan plastik.
Bagaimana pengolahan sampah organik di tingkat RT dapat membantu?
Pengolahan sampah organik di tingkat RT melalui pembuatan lubang kompos bisa mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPS, membantu pengelolaan sampah lebih efisien dan lingkungan lebih bersih.