Global Sumud Flotilla 2.0: Jurnalis Republika Bertahan dengan Mogok Makan Selama Penahanan

Baca juga

Global Sumud Flotilla 2.0: Jurnalis Republika Bertahan dengan Mogok Makan Selama Penahanan

Mogok Makan dalam Penahanan: Kisah Dua Jurnalis Republika yang Diculik Israel Saat Misi Global Sumud Flotilla 2.0

diupdate.id - Ketika sebuah misi kemanusiaan berubah menjadi cerita perjuangan di dalam penjara, keberanian dan solidaritas menjadi sorotan utama. Dua jurnalis Republika beserta puluhan aktivis lainnya menghadapi pengalaman pahit setelah diculik oleh pasukan Israel dalam pelayaran Global Sumud Flotilla 2.0. Mereka menjalani aksi mogok makan sebagai bentuk protes tegas selama penahanan.

Mengungkap Perjuangan di Balik Mogok Makan

Global Sumud Flotilla 2.0 yang bertujuan menunjukkan dukungan bagi Palestina, berakhir dengan penangkapan oleh Israel di laut internasional, sekitar 250 mil dari Gaza. Sedikitnya 90 peserta termasuk dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan rekannya, dipaksa menjalani masa tahanan yang penuh tantangan. Selama di dalam kapal penjara Israel, mereka hanya mendapatkan roti hambar dan air minum yang sangat terbatas.

Kondisi ini mendorong para aktivis melaksanakan mogok makan sebagai bentuk protes, menolak makanan yang disediakan Israel. Bambang Noroyono bercerita bahwa selama empat hari dia hanya mengonsumsi sedikit air, sampai air seninya berubah merah yang menandakan kondisi tubuhnya menurun. Mereka ditempatkan dalam kontainer di kapal serta kemudian di penjara Ketziot, di Gurun Negev dekat Gaza.

Inspirasi dari Mogok Makan Tahanan Palestina

Langkah mogok makan ini bukan tanpa alasan. Para aktivis terinspirasi dari cara tahanan Palestina melawan ketidakadilan di penjara Israel melalui aksi serupa. Melalui protes tanpa kekerasan ini, mereka berharap bisa menarik perhatian dunia dan menekan otoritas Israel agar menghentikan perlakuan tidak manusiawi selama penahanan.

Pada Kamis, 22 Mei 2026, pihak Israel membebaskan sekitar 430 aktivis tersebut. Setelah pembebasan, para aktivis dibawa ke bandara Eliat dan diterbangkan ke Istanbul, Turki. Bambang Noroyono menuturkan, ia baru bisa menyantap makanan saat dalam pesawat menuju Istanbul, mengakhiri periode kelaparan yang berat selama penahanan.

Dampak dan Refleksi Peristiwa

Insiden penyanderaan ini sekaligus memperlihatkan ketegangan yang terus berlanjut di kawasan sekitar Palestina dan Israel. Mogok makan sebagai bentuk perlawanan damai menjadi simbol kuat keberanian dan solidaritas para aktivis kemanusiaan dan jurnalis yang berjuang mengangkat isu-isu penting dunia. Di sisi lain, kondisi penahanan yang sangat minim memperlihatkan pelanggaran hak asasi yang patut mendapat perhatian lebih dari komunitas internasional.

Ringkasan

Perjalanan penuh cobaan ini menyoroti pentingnya keberanian dalam menyuarakan kebenaran meski menghadapi risiko besar. Aksi mogok makan dua jurnalis Republika dan puluhan aktivis dalam Global Sumud Flotilla 2.0 bukan hanya seruan protes, tapi juga perjuangan kemanusiaan yang menginspirasi kita untuk terus peduli dan memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas.

FAQ

Apa alasan jurnalis Republika dan aktivis Global Sumud Flotilla melakukan mogok makan?

Mereka melakukan mogok makan sebagai bentuk protes terhadap perlakuan pasukan Israel selama penahanan dan terinspirasi dari aksi mogok makan tahanan Palestina yang menuntut keadilan.

Berapa lama jurnalis Republika menjalani mogok makan saat ditahan Israel?

Salah satu jurnalis, Bambang Noroyono, menjalani mogok makan selama sekitar empat hari dengan hanya meminum sedikit air, sampai kondisi kesehatannya terganggu.