OCBC Tebar Dividen Rp 1,03 Triliun, Laba Tembus Rp 5,1 Triliun di 2025
Baca juga
- Purbaya Tantang Bank Dunia Minta Maaf Jika Prediksi Ekonomi RI 4,7 Persen Meleset
- Menaker Yassierli Pastikan Peluang Kerja di Indonesia Tetap Terbuka Meski Dunia Masih Bergejolak
- Update Harga Emas dan Perak Hari Ini: Stabil di Rabu 8 April 2026
- Harga Plastik Melonjak, DPR Soroti Ketergantungan Impor Bahan Baku yang Bikin RI Rentan
- Modal Rp 2 Juta Jadi Usaha Stabil, Ini Perjalanan Siti Julaeha di Lebak

OCBC Tebar Dividen Rp 1,03 Triliun, Laba Tembus Rp 5,1 Triliun di 2025
diupdate.id - Di tengah kondisi global yang masih penuh tantangan, OCBC justru datang membawa kabar yang disukai investor: dividen OCBC senilai Rp 1,03 triliun resmi dibagikan. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa kinerja bank masih solid, didukung pertumbuhan laba, modal yang kuat, dan kualitas aset yang terjaga.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di OCBC Tower, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Dari hasil rapat itu, para pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai setara Rp 45 per saham.
Laba naik, dividen ikut mengalir
Jumlah dividen OCBC tersebut mencerminkan dividend payout ratio sebesar 20,42 persen dari laba bersih konsolidasian perseroan yang mencapai Rp 5,1 triliun pada 2025. Angka laba itu tumbuh 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur OCBC, Parwati Surjaudaja, mengatakan pencapaian tersebut lahir dari pertumbuhan yang berkualitas. Menurutnya, bank tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit yang selektif dan pengelolaan risiko yang baik.
Artinya, OCBC tidak sekadar mengejar pertumbuhan cepat, tetapi juga berupaya memastikan bisnis tetap sehat. Bagi investor, pendekatan seperti ini biasanya dianggap lebih aman karena menekan potensi gejolak di kemudian hari.
Modal tebal dan aset ikut naik
Direktur OCBC, Hartati, menjelaskan bahwa kekuatan fundamental bank juga terlihat dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di level 24,5 persen pada akhir 2025. Rasio ini menunjukkan bantalan modal bank masih sangat kuat untuk menopang ekspansi usaha.
Di sisi lain, kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio NPL gross OCBC tercatat 1,9 persen, lebih rendah dari rata-rata industri. Ini penting karena NPL yang rendah menandakan kredit bermasalah masih terkendali.
Hingga 31 Desember 2025, total aset OCBC melonjak 10 persen menjadi Rp 308,1 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 18 persen menjadi Rp 243,5 triliun.
Dampak bagi investor dan strategi ke depan
Untuk investor, keputusan dividen OCBC memberi dua sinyal sekaligus: perusahaan masih mampu mencetak laba dan tetap membagikan hasilnya kepada pemegang saham. Sementara itu, kenaikan aset dan DPK menunjukkan kepercayaan nasabah masih terjaga.
RUPST juga menyetujui langkah strategis OCBC untuk menjadi Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan. Langkah ini dinilai bisa memperkuat sinergi bisnis serta efisiensi modal grup, meski implementasinya tentu akan menjadi perhatian pasar ke depan.
Dengan kombinasi laba yang tumbuh, modal kuat, dan rencana ekspansi struktur bisnis, OCBC terlihat mencoba menjaga momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan kehati-hatian. Bagi pasar, ini bisa menjadi modal penting untuk mempertahankan kepercayaan investor di tengah persaingan industri perbankan yang makin ketat.
FAQ
Berapa dividen yang dibagikan OCBC pada 2025?
OCBC membagikan dividen tunai sebesar Rp 1,03 triliun atau setara Rp 45 per saham.
Berapa laba bersih OCBC pada 2025?
Laba bersih konsolidasian OCBC pada 2025 mencapai Rp 5,1 triliun, tumbuh 4 persen dibanding tahun sebelumnya.