Mitos atau Fakta? Real Food dan No Sugar Pengaruhi Tantrum Anak
Baca juga
- Pegawai Border Force Inggris Dijatuhi Hukuman Penjara karena Mata-Mata untuk Intelijen China
- Antonio Rudiger dan Kisah Inspiratif di Balik Duka Pengungsi Dunia dalam Piala Dunia
- Tragis! Guru Ini Dihukum Penjara Seumur Hidup Usai Aniaya dan Bunuh Anak Angkat Bayinya
- MIND ID Ubah 51 Kg Sampah Organik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Invirotech 2026
- Jumlah Pekerja Baru Turun ke Level Terendah dalam 5 Tahun, Apa Maknanya bagi Pasar Kerja?

Benarkah Pola Makan Real Food dan No Sugar Bikin Anak Jarang Tantrum? Ini Penjelasan Ahli Gizi
diupdate.id - Fenomena anak yang jarang tantrum saat menjalani acara keluarga, seperti yang terjadi pada Kamari Sky Wassink, putri selebritas Jennifer Coppen, menarik perhatian banyak orang. Anak berusia 3 tahun ini terlihat tenang dan tidak rewel saat momen penting, dan hal ini dikaitkan dengan pola makan real food dan minim gula yang diterapkannya sejak kecil. Tapi, apakah benar pola makan ini jadi kunci anak lebih jarang mengalami tantrum? Yuk, kita kupas bersama dari sisi ahli gizi.
Tantrum Anak: Bukan Hanya Soal Makanan
Menurut dr. Tan Shot Yen, dokter sekaligus ahli gizi masyarakat, tantrum pada anak tidak selalu berakar dari asupan makanan atau konsumsi gula. Banyak faktor yang berperan, termasuk keterbatasan kemampuan anak untuk mengekspresikan perasaan dan masalah yang sedang dialaminya. "Tantrum bisa terjadi ketika anak tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan," jelas dr. Tan.
Peran Pola Makan dan Orang Tua dalam Perilaku Anak
Meski pola makan sehat, seperti konsumsi real food dan mengurangi gula, penting bagi kesehatan anak, dr. Tan menyoroti bahwa kebiasaan ini harus diawali dari orang tua sebagai contoh langsung. Pola asupan sehat tidak cukup hanya diajarkan dengan kata-kata, tetapi harus tercermin dalam tindakan sehari-hari. Sebab anak cenderung meniru perilaku orang tuanya, termasuk dalam hal makan.
Rekomendasi Pola Makan Sehat untuk Anak Sesuai Isi Piringku
Dr. Tan juga membagikan panduan makan sehat anak usia 12-23 bulan yang selaras dengan prinsip Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan. Pada usia ini, makanan pendamping ASI (MPASI) menyumbang sekitar 70% kebutuhan gizi, dengan fokus utama pada protein hewani. Contohnya, nasi putih sebanyak 5 sendok makan (sekitar 55 gram), hati ayam 55 gram, sayur seperti bayam dan wortel 20 gram, serta minyak dan sedikit garam sesuai takaran. Untuk anak usia 2-5 tahun, porsi disesuaikan dengan menambah nasi dan lauk seperti paha ayam, sayuran, tahu goreng, dan buah, seperti pepaya.
Dampak Positif Pola Makan Sehat pada Perkembangan Anak
Mengadopsi pola makan sehat dan real food bisa membantu menunjang perkembangan fisik dan kognitif anak, sekaligus menjaga kestabilan energi yang dapat mempengaruhi suasana hati dan kemampuan anak mengelola emosi. Namun, penting diingat bahwa pola makan hanya salah satu faktor, sementara dukungan emosional dan komunikasi efektif dari orang tua juga sangat berperan dalam mengurangi kejadian tantrum.
Ringkasan
Pola makan real food dan minim gula memang mendukung kesehatan anak, namun tantrum bukan hanya dipengaruhi oleh makanan. Faktor psikologis dan kemampuan anak dalam mengekspresikan diri juga sangat penting. Orang tua yang mampu memberikan contoh pola hidup sehat dan komunikasi yang baik, akan membantu anak tumbuh lebih tenang dan jarang tantrum.
FAQ
Apakah menghindari gula bisa mencegah tantrum pada anak?
Menghindari gula berlebih dapat membantu menjaga kesehatan anak, tapi tantrum juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti kemampuan anak mengekspresikan perasaan dan lingkungan sekitar.
Bagaimana cara orang tua membantu anak mengurangi tantrum?
Orang tua bisa menjadi contoh dengan memberikan pola makan sehat dan menyediakan komunikasi yang empatik agar anak lebih mudah mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya.