Refleksi Hardiknas: Menagih Janji Pendidikan Gratis Bagi 49 Ribu Anak Putus Sekolah di Jambi
Baca juga
- Mendikdasmen Tegaskan Pentingnya Pendidikan Berkualitas di Hardiknas 2026
- Mendikdasmen Tegaskan Pentingnya 3M: Kunci Utama Tingkatkan Mutu Pendidikan Nasional
- Hardiknas 2026: Tantangan Besar Pemerataan Pendidikan di Jawa Timur
- Rustini Muhaimin Ajak Anak-Anak di Kaki Gunung Semeru untuk Gemar Membaca lewat Jendela Dunia
- Dari Kampus ke Karier Gemilang: Kisah Sukses Alumni UBSI Yogyakarta di Dunia Perhotelan
diupdate.id - Setiap tanggal 2 Mei, langit Jambi selalu diwarnai dengan warna-warni baju adat dan kekhusyukan upacara bendera. Podium-podium penuh dengan pidato manis tentang kemajuan literasi dan jargon "Merdeka Belajar". Namun, di balik riuh rendah seremonial itu, ada luka menganga yang gagal ditutupi oleh kain tenun maupun toga kebesaran: 49.000 anak Jambi sedang menangis di luar pagar sekolah.
Angka 49.000 bukan sekadar statistik mati di atas meja birokrat. Mereka adalah wajah-wajah masa depan yang terpaksa pupus karena jerat kemiskinan dan ketimpangan akses. Bagaimana mungkin kita dengan bangga merayakan Hari Pendidikan Nasional, sementara di sudut-sudut Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, puluhan ribu remaja harus menukar buku dengan peralatan kerja kasar demi menyambung hidup?
Hardiknas bukan sekadar seremonial! Jika pendidikan hanya dimaknai sebagai ritual tahunan berbaju adat, maka kita sedang melakukan pengkhianatan intelektual. Sebagai mahasiswa FKIP—kawah candradimuka bagi para calon pendidik—kita memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara. Kita tidak boleh membiarkan marwah pendidikan direduksi menjadi sekadar ajang pamer foto estetik di media sosial, sementara substansi keadilan pendidikan masih jauh dari panggang api.
Sebagai kader KAMMI Jambi, saya dengan tegas menyatakan:
"Hardiknas di Jambi tahun ini tidak boleh hanya habis di upacara bendera dan baju adat. Selama masih ada siswa yang dikeroyok di lingkungan sekolah dan puluhan ribu anak masih berada di luar sistem sekolah, maka 'Merdeka Belajar' di Jambi masih sebatas slogan."
Kalimat ini bukan sekadar kritik kosong, melainkan pengingat bahwa janji "Pendidikan Gratis" dan proyek "Sekolah Rakyat" yang digadang-gadang pemerintah harus benar-benar menyentuh akar rumput. Kita menagih janji! Kita menuntut realisasi konkret untuk menekan angka 49.000 anak putus sekolah tersebut. Jangan biarkan mereka hanya menjadi komoditas politik atau angka yang diperdebatkan validitasnya di Dapodik tanpa ada solusi nyata di lapangan.
Pendidikan adalah hak fundamental, bukan hak istimewa (privilege) bagi mereka yang mampu secara ekonomi saja. Jika 49.000 anak Jambi masih teralienasi dari ruang kelas, maka Hardiknas hanyalah sebuah panggung sandiwara yang menyakitkan.
Sudah saatnya kita berhenti bersolek dengan simbol-simbol luar. Saatnya bekerja keras memastikan tak ada lagi anak Jambi yang harus putus asa karena putus sekolah. Hardiknas adalah momentum perlawanan terhadap kebodohan dan kemiskinan, bukan ajang formalitas tanpa makna.
Jambi, 2 Mei 2026
Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!
Oleh: Zahran Sabdian Fadholi
(Mahasiswa FKIP Universitas Jambi)