Edukasi Dini Penyelamatan Satwa Langka: Mahasiswa Kehutanan UNJA Gelar Sosialisasi Gajah Sumatra di Sekolah

Edukasi Dini Penyelamatan Satwa Langka: Mahasiswa Kehutanan UNJA Gelar Sosialisasi Gajah Sumatra di Sekolah

Baca juga

diupdate.id – Menurunnya populasi satwa endemik Indonesia mengundang keprihatinan banyak pihak, tak terkecuali di kalangan akademisi. Sebagai bentuk aksi nyata, sekelompok mahasiswa dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi (UNJA) menggelar kegiatan sosialisasi edukatif bertajuk "Gajah Sumatra: Sahabat Hutan yang Terancam Punah" di SMPN 02 Kota Jambi, pada Rabu tanggal 08 April.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Project Based Learning untuk Mata Kuliah Konservasi Sumber Daya Hutan. Tim pelaksana yang tergabung dalam Kelompok 4 ini beranggotakan tiga mahasiswi, yakni Rhut Adellia Sitompul, Lexi Welindra, dan Kaluna Dhitiandira. Mereka terjun langsung ke sekolah untuk membagikan wawasan sekaligus menumbuhkan bibit kepedulian generasi muda terhadap kelestarian alam, khususnya nasib Gajah Sumatra.

Mahasiswa Kehutanan UNJA Kelompok 4 saat memberikan materi sosialisasi mengenai Gajah Sumatra di SMPN 02 Kota Jambi


Mengenal Gajah Sumatra: Sang Mamalia Raksasa yang Kritis
Dalam pemaparannya, tim Kelompok 4 menjelaskan bahwa gajah merupakan mamalia darat terbesar di dunia yang berasal dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea. Di tingkat global, gajah terbagi menjadi tiga spesies utama, yakni Gajah Sabana Afrika, Gajah Hutan Afrika, dan Gajah Asia.
Fokus utama sosialisasi ini adalah Gajah Sumatra yang memiliki nama ilmiah Elephas maximus sumatranus, salah satu subspesies dari Gajah Asia yang hidup di Pulau Sumatra. Hewan ini utamanya mendiami hutan dataran rendah, rawa, gambut, dan hutan pegunungan rendah di bawah ketinggian 300-2000 mdpl. Persebaran utamanya membentang di tujuh provinsi: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, hingga Lampung.
"Gajah Sumatra memiliki ciri fisik yang unik dibandingkan spesies lain. Kulit mereka berwarna abu-abu yang lebih terang dengan bercak depigmentasi atau flek putih kemerahan pada telinga, wajah, dan belalai," jelas salah satu anggota Kelompok 4 di hadapan para siswa. Selain itu, Gajah Sumatra memiliki dua tonjolan di dahi, telinga berbentuk segitiga yang lebih kecil, serta memiliki 5 kuku di kaki depan dan 4 kuku di kaki belakang. Ujung belalai mereka hanya memiliki satu "jari" (satu prosesus) yang digunakan untuk memanipulasi objek dengan presisi tinggi.


Mengapa Gajah Disebut "Sahabat Hutan"?
Banyak yang belum menyadari betapa pentingnya peran gajah bagi ekosistem. Para mahasiswa ini mengedukasi siswa bahwa mamalia besar ini dijuluki sebagai "Sahabat Hutan". Saat gajah memakan buah-buahan, bijinya akan keluar bersama kotoran dan tumbuh menjadi tanaman baru yang memperluas jangkauan hutan.
Lebih dari itu, saat berjalan melintasi vegetasi lebat, gajah membuka jalur baru yang nantinya membantu hewan lain bergerak di dalam hutan. Bahkan, lubang air yang digali atau jalur yang dilewati gajah sering kali dimanfaatkan oleh hewan lain untuk minum atau sekadar berpindah tempat.

Antusiasme siswa SMPN O2 Kota Jambi saat sesi tanya jawab mengenai peran Gajah Sumatra sebagai 'Sahabat Hutan'.
 

Nyawa di Ujung Tanduk: Status Kritis dan Ancaman
Meski memiliki peran yang sangat krusial, nasib Gajah Sumatra berada di ambang kepunahan. Kelompok 4 memaparkan fakta mengejutkan bahwa International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan status Gajah Sumatra sebagai Critically Endangered atau sangat terancam punah.
Ada empat ancaman utama yang membayangi kelangsungan hidup mereka. Pertama adalah hilangnya habitat akibat perubahan hutan menjadi area perkebunan, permukiman, atau jalan yang membuat ruang hidup gajah semakin sempit. Kedua, fragmentasi hutan yang membuat kelompok gajah terisolasi dan sulit berpindah tempat untuk mencari makan.
Berkurangnya habitat ini memicu ancaman ketiga, yakni konflik manusia dan gajah, di mana gajah sering masuk ke perkebunan atau desa masyarakat untuk mencari makanan. Terakhir, perburuan liar untuk mengambil gading menjadi faktor mematikan yang sangat mengancam populasi mereka.
Sebagai studi kasus, mahasiswa mengambil contoh Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau yang menjadi habitat krusial. Pada tahun 2004, masih terdapat sekitar 200 ekor gajah di sana. Namun, akibat kerusakan hutan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan, populasinya terus menyusut. Saat ini, diperkirakan hanya tersisa sekitar 60-150 ekor Gajah Sumatra yang hidup dan menggunakan kawasan tersebut sebagai koridor pergerakan.


Harapan Melalui Upaya Konservasi
Menutup sosialisasinya, Kelompok 4 tidak hanya memberikan fakta suram, melainkan juga secercah harapan. Mereka menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya pelestarian, seperti membuat kawasan konservasi, menegakkan hukum yang melarang perburuan dan perdagangan gajah, serta gencar melakukan edukasi ke masyarakat.
Namun, perlindungan ini tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Para mahasiswa mengajak seluruh siswa yang hadir untuk ikut andil dalam upaya pelestarian. Langkah-langkah kecil namun berdampak yang bisa dilakukan antara lain ikut dalam kegiatan penanaman pohon, menjaga hutan sebagai rumah gajah, dan terus mendukung berbagai kampanye pelestarian alam.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat/bukti sosialisasi dan sesi foto bersama. Melalui inisiatif Project Based Learning dari mahasiswa Universitas Jambi ini, diharapkan generasi muda semakin menyadari bahwa menyelamatkan Gajah Sumatra sama artinya dengan menyelamatkan keseimbangan ekosistem bumi kita.