Psikolog Ungkap Sensitivitas Bukan Kelemahan, Justru Sinyal Tubuh Butuh Perhatian

Baca juga

Psikolog Ungkap Sensitivitas Bukan Kelemahan, Justru Sinyal Tubuh Butuh Perhatian

Psikolog Ungkap Sensitivitas Bukan Kelemahan, Justru Sinyal Tubuh Butuh Perhatian

diupdate.id - JAKARTA — Pernah merasa tiba-tiba ingin menangis di tengah keramaian, atau tubuh mendadak terasa sesak tanpa alasan yang jelas? Menurut psikolog Indah Sundari Jayanti, kondisi seperti itu bisa jadi bukan hal sepele. Sensitivitas justru dapat menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran sedang meminta perhatian lebih.

Indah menjelaskan, sensitivitas tidak hanya berkaitan dengan reaksi fisik yang terlihat dari luar, tetapi juga menyangkut kondisi mental seseorang. Dalam acara bertema SOS: Strength of Sensitivity yang digelar oleh merek perawatan kulit Aveeno pada Jumat (17/4/2026), ia menegaskan bahwa manusia terdiri dari dua sisi yang saling terhubung: fisik dan mental.

Sensitivitas Bukan Sekadar Soal Kulit atau Emosi

Menurut Indah, banyak orang masih menganggap sensitivitas sebagai sifat mudah tersinggung atau terlalu emosional. Padahal, dari sisi psikologis, sensitivitas adalah bagian dari cara seseorang memproses pengalaman hidup dan menjaga kesejahteraan dirinya secara menyeluruh.

Ia menekankan, saat seseorang terlalu lama menahan tekanan, tubuh bisa memberi sinyal dalam bentuk kelelahan emosional atau emotionally drained. Kondisi ini membuat seseorang merasa kosong, lelah, atau seperti kehilangan tenaga secara mental meski secara fisik tampak baik-baik saja.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Indah menyebutkan, sensitivitas yang terabaikan dapat berkembang menjadi anxiety atau kecemasan berlebih. Dalam beberapa kasus, gejala panic attack juga bisa muncul tiba-tiba, bahkan ketika situasi sedang terlihat normal.

Ia mencontohkan keluhan yang kerap ditemuinya pada klien: tiba-tiba sesak napas, tubuh kaku, tangan gemetar, lalu ingin menangis tanpa tahu penyebabnya. Menurutnya, itu adalah bentuk sinyal dari mental bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres dan butuh perhatian segera.

Dampak lain yang tak kalah penting adalah menurunnya kepercayaan diri atau low self-esteem. Hal ini sering terjadi saat seseorang tidak mendapat validasi atas perasaannya, lalu justru menerima komentar negatif dari lingkungan sekitar. Jika berlangsung lama, pandangan buruk terhadap tubuh atau negative body image juga bisa muncul.

Dampak Sosial dan Pentingnya Validasi

Analisis sederhana dari penjelasan ini menunjukkan bahwa sensitivitas sering kali diperburuk oleh stigma sosial, seperti anggapan bahwa menangis berarti lemah atau terlalu cengeng. Padahal, menangis adalah respons manusiawi saat seseorang berada di bawah tekanan.

Karena itu, pesan utama dari sensitivitas adalah pentingnya mengenali batas diri, tidak memaksa tubuh terus bekerja, dan memberi ruang istirahat bagi mental. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya juga menjadi langkah penting agar beban tidak dipikul sendirian.

Pada akhirnya, sensitivitas bukanlah kelemahan. Justru, seperti yang dijelaskan Indah, ia adalah kekuatan yang membantu seseorang lebih peka terhadap kondisi dirinya sebelum masalah berkembang lebih jauh.

FAQ

Apakah sensitivitas berarti seseorang lemah secara mental?

Tidak. Menurut psikolog, sensitivitas justru bisa menjadi sinyal bahwa tubuh dan mental sedang membutuhkan perhatian dan istirahat.

Apa dampak sensitivitas yang tidak dikelola dengan baik?

Dampaknya bisa berupa kelelahan emosional, kecemasan berlebih, panic attack, turunnya rasa percaya diri, hingga pandangan negatif terhadap tubuh.