Dari Stunting hingga AI, Seminar Nasional FTI UBSI Bahas Cara Digital Menjawab Masalah Nasional
Baca juga
- Kemkomdigi Cecar Meta dan Google dengan 29 Pertanyaan, Ada Apa dengan Kepatuhan PP Tunas?
- Rating Gim di Steam Bukan Klasifikasi Resmi, Kemenkomdigi Beri Peringatan
- Revolusi Bonsai AI: Model 1-Bit yang Bikin Dunia Kaget, Kecil Tapi Cerdas
- Meta Bakal Kurangi Label PG-13 di Akun Remaja Instagram, Ini Alasannya
- Di Usia 60 Tahun, Dasep Ahmadi Kantongi Hak Paten “Rumah” Baterai yang Menarik Perhatian

Dari Stunting hingga AI, Seminar Nasional FTI UBSI Bahas Cara Digital Menjawab Masalah Nasional
diupdate.id - Di tengah dorongan digitalisasi yang makin kencang, satu pertanyaan penting muncul: bagaimana teknologi benar-benar bisa membantu menyelesaikan persoalan nyata di Indonesia? Jawaban itu mengemuka dalam seminar nasional yang digelar Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) di Bekasi. Dari isu stunting hingga pemanfaatan kecerdasan buatan, forum ini menyoroti bahwa transformasi digital bukan sekadar tren, melainkan alat untuk menjawab tantangan nasional.
Seminar Nasional Inovasi Teknologi dan Informatika tersebut berlangsung di BSI Convention Center, Kaliabang, Bekasi, pada Kamis (9/4/2026). Dalam agenda ini, para akademisi dan praktisi membahas bagaimana teknologi dapat dikembangkan secara bertahap, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
AI Dinilai Bisa Percepat Solusi di Sektor Prioritas
Narasumber Zainal Arifin Hasibuan menegaskan bahwa penerapan kecerdasan buatan perlu dilakukan secara bertahap dan terintegrasi. Menurutnya, ruang penerapan AI sangat besar jika diarahkan ke sektor prioritas, terutama kesehatan. Dari sinilah upaya penanganan stunting dan persoalan kesehatan lain bisa dibuat lebih efektif melalui kerja sama lintas sektor.
Ia juga mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh berhenti di level konsep. Karena itu, penerapan AI perlu dihubungkan dengan tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan pendekatan ini, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga pusat lahirnya solusi nyata.
Budaya Riset Jadi Tantangan Besar
Selain bicara peluang, seminar ini juga menyoroti hambatan utama dalam membangun ekosistem digital di Indonesia, yakni budaya riset yang belum kuat di kalangan akademisi. Zainal menilai, dosen memiliki peran penting sebagai motor inovasi. Jika penelitian tidak hidup di kampus, maka sulit melahirkan inovasi yang punya daya saing.
Karena itu, penguatan kapasitas dosen menjadi kunci, baik dari sisi keilmuan, teknologi, maupun keterlibatan dengan masyarakat dan industri. Pendekatan ini dinilai penting agar hasil riset tidak berhenti di jurnal, tetapi bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi Jadi Kunci Ekosistem Digital Berkelanjutan
Seminar nasional FTI UBSI ini juga menekankan perlunya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Menurut para pembicara, pengembangan talenta digital hanya bisa berjalan jika semua pihak terlibat aktif. Pembelajaran berbasis praktik atau learning by doing disebut sebagai salah satu cara untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan teknologi.
Bagi UBSI yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk mendukung lahirnya talenta digital di Indonesia. Dampaknya tidak hanya untuk dunia kampus, tetapi juga bagi kebutuhan nasional yang semakin bergantung pada inovasi teknologi. Jika diterapkan dengan konsisten, transformasi digital berpotensi menjadi penggerak solusi konkret untuk masalah seperti kesehatan, pendidikan, hingga pengembangan riset di masa depan.
Pada akhirnya, seminar ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga soal arah pemanfaatan yang tepat. Ketika riset, pendidikan, dan kolaborasi berjalan seiring, teknologi bisa menjadi jembatan penting untuk menjawab persoalan nasional secara lebih efektif.
FAQ
Apa fokus utama seminar nasional FTI UBSI ini?
Seminar ini membahas pemanfaatan AI dan transformasi digital untuk membantu menyelesaikan masalah nasional, termasuk stunting dan isu kesehatan.
Mengapa kolaborasi lintas sektor dianggap penting?
Karena pengembangan ekosistem digital membutuhkan kerja sama akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat agar inovasi bisa diterapkan secara nyata.