Ketegangan Kabinet Trump Meningkat, Direktor Intelijen Tulsi Gabbard Resmi Mengundurkan Diri
Baca juga
- Banjir Promo KPR dan Kredit Mobil Murah di BRI Consumer Expo 2026 Jakarta
- Polsek Salahutu Hancurkan 500 Liter Sopi Ilegal, Perangi Gangguan Keamanan
- Ruas Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki Jasamarga, Simak Jadwal Lengkapnya
- LKBN Antara Raih Penghargaan Pemimpin dan Perusahaan Terbaik di IRCA 2026
- Erling Haaland dan Martin Odegaard Jadi Pilar Utama Norwegia di Piala Dunia 2026

Terungkap! Direktur Intelijen AS Tulsi Gabbard Mundur, Ada Ketegangan di Kabinet Trump soal Perang Iran
diupdate.id - Ketika kebijakan perang memanas di panggung dunia, drama politik di dalam Gedung Putih juga semakin bergejolak. Dalam sebuah langkah mengejutkan, Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, Tulsi Gabbard, secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan ini?
Perbedaan Sikap Soal Perang Iran Memicu Ketegangan
Tulsi Gabbard mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat, dengan alasan utama ingin fokus mendampingi sang suami yang tengah melawan kanker tulang langka. Namun, di balik alasan personal tersebut, sumber-sumber internal Gedung Putih menyebut soal ketidaksepahaman tajam antara Gabbard dan Presiden Trump terkait kebijakan perang, khususnya konflik Iran. Saat Amerika Serikat memutuskan bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran, ketegangan politik di kabinet semakin memuncak.
Mantan anggota Kongres dari Hawaii ini selama ini dikenal sebagai sosok yang sangat menolak intervensi militer di luar negeri, sikap yang kerap berbenturan dengan unsur hawkish dalam pemerintahan Trump. Serangan AS ke Iran bahkan sempat meningkatkan kekhawatiran terkait eskalasi di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak global.
Langkah Mundur dan Dampaknya
Dalam surat pengunduran diri yang diunggah di media sosial, Gabbard menyatakan akan meninggalkan jabatannya pada 30 Juni mendatang. Trump sendiri menyampaikan apresiasinya kepada Gabbard, menyebutnya telah melakukan "pekerjaan luar biasa" dan akan dirindukan. Sebagai penggantinya, Aaron Lukas ditunjuk sebagai pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional.
Meskipun alasan resmi adalah kondisi keluarga, banyak pengamat menilai posisi Gabbard memang semakin sulit dipertahankan di tengah kebijakan perang yang berlawanan dengan prinsipnya. Situasi ini bisa jadi tanda adanya turbulensi dan perpecahan internal yang lebih dalam dalam kabinet Trump, terutama mengenai arah kebijakan luar negeri AS yang cenderung agresif di Timur Tengah.
Analisa Ringkas: Apa Arti Mundurnya Gabbard?
Mundur atau tidak, keputusan Tulsi Gabbard bisa membuka diskusi luas tentang bagaimana perbedaan pandangan ideologis dalam pemerintahan AS memengaruhi kebijakan luar negeri, terutama di era yang penuh ketegangan geopolitik ini. Kepergiannya juga mencerminkan tekanan tinggi yang dialami para pejabat pemerintah ketika berhadapan dengan isu-isu perang yang kontroversial.
Ringkasan
Pengunduran diri Tulsi Gabbard dari jabatan Direktur Intelijen Nasional menyisakan cerita penting tentang perbedaan pandangan dalam kabinet Trump mengenai perang Iran. Selain alasan keluarga yang dijadikan alasan resmi, konflik ideologis terkait kebijakan luar negeri dianggap menjadi faktor kunci. Ini menjadi gambaran nyata bagaimana politik dalam negeri AS dapat berpengaruh besar pada dinamika kebijakan global, khususnya di wilayah Timur Tengah yang selalu rawan konflik.
FAQ
Siapa Tulsi Gabbard?
Tulsi Gabbard adalah mantan anggota Kongres AS dari Hawaii dan veteran militer yang pernah menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat.
Apa alasan resmi pengunduran diri Tulsi Gabbard?
Tulsi Gabbard menyatakan mundur untuk mendampingi suaminya yang sedang berjuang melawan kanker tulang langka.