Candaan Mesum di Grup Chat Disorot dr Tirta, Ini Alasannya

Baca juga

Candaan Mesum di Grup Chat Disorot dr Tirta, Ini Alasannya

Dr Tirta Soroti Kasus FH UI: Jangan Lagi Normalisasi Candaan Mesum di Grup Chat

diupdate.id - Kasus dugaan pelecehan seksual verbal yang ramai dibicarakan di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia memicu reaksi dari dr Tirta Mandira Hudhi. Lewat unggahan di media sosial, ia menegaskan satu pesan yang cukup keras: candaan mesum jangan dianggap sepele, apalagi dinormalisasi di ruang privat seperti grup chat.

Menurut dr Tirta, kebiasaan melontarkan guyonan bernuansa seksual bukan hanya soal “bercanda”. Jika terus dibiarkan, pola itu bisa terbawa sampai dewasa dan memengaruhi cara seseorang memandang orang lain. Karena itu, ia meminta masyarakat lebih sadar bahwa kata-kata juga bisa melukai, meski diucapkan dalam obrolan yang terlihat santai.

Pesan dr Tirta: Grup Privat Bukan Tempat Membenarkan Pelecehan

Dalam unggahannya di X pada Rabu (15/4/2026), dr Tirta menekankan bahwa ruang privat seperti WhatsApp atau Line tidak otomatis membuat candaan bernada seksual menjadi aman. Baginya, batas antara “sekadar bercanda” dan perilaku yang merendahkan orang lain sangat tipis jika tidak disertai kontrol diri.

Ia juga mengingatkan soal pentingnya menahan dorongan yang bisa berubah menjadi perilaku merugikan. Intinya, menurut dr Tirta, kebiasaan candaan mesum perlu dihentikan sejak awal, bukan dibiarkan lalu dianggap wajar.

Dampak Jangka Panjang yang Sering Diabaikan

Selain soal etika pergaulan, dr Tirta menyoroti dampak jangka panjang dari kebiasaan berbicara seksis. Ia menyebut perilaku seperti ini berpotensi ditiru oleh generasi berikutnya, termasuk anak-anak. Artinya, bahasa yang dianggap ringan di ruang chat bisa membentuk budaya yang lebih luas di kehidupan sehari-hari.

Di titik ini, isu tersebut tak lagi berhenti pada kasus individu. Pesan dr Tirta menegaskan bahwa normalisasi lelucon seksual dapat menciptakan lingkungan yang permisif terhadap pelecehan. Jika dibiarkan, hal ini berisiko membuat batas sopan santun makin kabur, terutama di ruang digital yang sering terasa tanpa konsekuensi.

Karena itu, kasus yang mencuat di FH UI menjadi pengingat bahwa literasi etika digital sama pentingnya dengan etika di dunia nyata. Candaan mesum yang dianggap lucu oleh sebagian orang bisa berubah menjadi bentuk kekerasan verbal bagi orang lain.

Pada akhirnya, dr Tirta mengajak masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih kata. Bercanda tetap boleh, tetapi tidak dengan merendahkan martabat orang lain. Pesan sederhananya jelas: jangan biasakan hal yang kelak bisa menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihentikan.

FAQ

Apa pesan utama dr Tirta terkait kasus FH UI?

dr Tirta mengingatkan agar candaan seksis dan mesum tidak dinormalisasi, termasuk di grup chat privat.

Mengapa candaan mesum dianggap berbahaya?

Karena bisa membentuk kebiasaan, memengaruhi pola pikir, dan berdampak pada perilaku hingga dewasa.