Tes DNA Baru Buka Peluang Ribuan Pasien Kanker Payudara Hindari Kemoterapi
Baca juga
- Terungkap! Pengguna Whip Pink Alami Kelumpuhan Temporer, Ini Dampak Bahayanya bagi Kesehatan
- Screening Kanker Prostat Fokus pada Pria dengan Gen BRCA2, Kenali Alasannya
- DR Congo Terjebak Krisis Ebola dan Konflik: WHO Peringatkan Dampak Bencana Ganda
- IPMG dan FKM UI Berkolaborasi Cetak Talenta Farmasi Inovatif
- Tragedi di Balik Layanan Kesehatan Mental: Saat Peringatan Pasien Terabaikan dan Nyawa Melayang
Tes DNA Baru Buka Peluang Ribuan Pasien Kanker Payudara Hindari Kemoterapi
diupdate.id - Bayangkan bisa melewati kemoterapi yang berat hanya dengan diagnosis yang lebih tepat dan perawatan yang lebih ringan. Sebuah studi internasional mengungkap tes DNA terbaru yang memungkinkan jutaan pasien kanker payudara menghindari kemoterapi sekaligus menekan risiko kambuhnya kanker. Kini, pengobatan kanker payudara bisa jadi lebih manusiawi dan personal.
Penemuan Terobosan dari Studi Internasional
Penelitian yang dipimpin oleh University College London (UCL) melibatkan lebih dari 4.000 pasien kanker payudara baru berusia di atas 40 tahun dari enam negara, termasuk Inggris, Norwegia, dan Thailand. Dengan menggunakan tes genetik bernama Prosigna, para ilmuwan menganalisis aktivitas 50 gen yang terkait dengan pertumbuhan kanker payudara untuk menilai risiko kambuhnya penyakit.
Hasilnya mengejutkan. Sekitar dua pertiga pasien menunjukkan skor rendah pada tes ini, yang berarti mereka berisiko rendah mengalami kekambuhan. Pasien ini hanya mendapatkan terapi hormon tanpa kemoterapi dan tetap memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 93,7%, hampir sebanding dengan 94,9% yang menjalani kemoterapi.
Kenapa Ini Penting? Dampak dan Analisa
Kemoterapi memang sering menjadi pilihan untuk mencegah kanker kembali, khususnya pasca operasi pengangkatan tumor atau saat kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat. Namun, kemoterapi juga membawa berbagai efek samping seperti kelelahan ekstrem, mual, rambut rontok, dan masalah kesuburan yang bisa memengaruhi kualitas hidup pasien.
Dengan tes Prosigna, dokter kini bisa mempersonalisasi perawatan berdasarkan profil genetik tumor, sehingga pasien dengan risiko rendah dapat menghindari kemoterapi—mengurangi beban fisik dan psikologis tanpa mengorbankan efektivitas terapi. Secara sistem kesehatan, ini berarti pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan biaya pengobatan yang lebih terkendali.
Ringkasan dan Harapan ke Depan
Penemuan dari UCL ini tidak hanya menghadirkan harapan baru bagi pasien kanker payudara tetapi juga menggeser paradigma pengobatan ke arah yang lebih presisi dan manusiawi. Meski belum dikonfirmasi untuk pasien berusia di bawah 40 tahun, hasil ini berpotensi mengubah praktik standar di seluruh dunia. Lebih dari 5.000 pasien di Inggris bahkan bisa menghindari kemoterapi setiap tahunnya berkat teknologi ini.
Salah satu peserta studi, Karen Bonham (64), menyebut hasil ini seperti "hadiah Natal" yang membawa kelegaan besar karena dia dapat melewati kemoterapi dan fokus pada terapi hormon serta radioterapi. Kisah seperti Karen menjadi bukti nyata manfaat diagnosa dan pengobatan yang lebih tepat.
Dengan perkembangan ini, masa depan pengobatan kanker payudara semakin cerah, di mana tiap pasien bisa mendapat terapi sesuai kebutuhan uniknya, meminimalkan efek samping yang tidak perlu, dan meningkatkan harapan hidup secara keseluruhan.
FAQ
Apa itu tes DNA Prosigna?
Prosigna adalah tes genetik yang menganalisis aktivitas 50 gen untuk menilai risiko kekambuhan kanker payudara sehingga membantu menentukan kebutuhan kemoterapi.
Siapa yang bisa menggunakan tes ini?
Saat ini tes ini sudah diterapkan pada pasien berusia di atas 40 tahun dengan kanker payudara tipe umum, sementara efektivitasnya untuk pasien di bawah 40 tahun masih dalam penelitian.
tes DNA kanker payudara menjadi sorotan utama pada pembahasan ini.