Dua Tiang Kayu Berusia 5.000 Tahun, Versi Sederhana Stonehenge yang Ditemukan di Bulford
Baca juga
- Buya Hamka: Ikon Intelektual dan Budaya Melayu yang Menginspirasi Malaysia
- Marjane Satrapi, Sang Pengubah Wajah Budaya Iran, Tutup Usia di Usia 56 Tahun
- Tradisi Hadrat di Pulau Bacan: Menguatkan Kebersamaan Saat Idul Adha
- Batik Indonesia Meriahkan London Craft Week 2026 Lewat Kolaborasi KBRI dan Desainer Blasteran
- Kuliner Indonesia Bersinar di Amerika, Ini Dampak Diplomasi Budayanya
Dua Tiang Kayu Berusia 5.000 Tahun, Versi Sederhana Stonehenge yang Ditemukan di Bulford
diupdate.id - Bayangkan sebuah versi Stonehenge yang jauh lebih sederhana, terbuat hanya dari dua tiang kayu besar yang berbaris tepat mengikuti pergerakan matahari pada hari terpanjang dan terpendek dalam setahun. Temuan arkeolog terbaru ini membawa kita kembali 500 tahun lebih awal dari Stonehenge yang kita kenal.
Penemuan Struktur Kayu Kuno di Bulford
Para arkeolog dari tim Wessex Archaeology baru-baru ini mengungkap sisa sebuah struktur kuno di Bulford, Inggris, yang hanya terdiri dari dua lubang tiang di tanah. Meski sederhana, kedua tiang kayu ini diyakini diposisikan sedemikian rupa sehingga sejajar dengan matahari saat solstis musim panas dan musim dingin, sama seperti fenomena yang terjadi di Stonehenge. Usia struktur ini diperkirakan mencapai 5.000 tahun, yaitu 500 tahun lebih tua daripada Stonehenge.
Selain lubang tiang, para peneliti mengendus berbagai artefak di sekitar situs, termasuk alat keramik, alat flint, dan tulang binatang. Semua ini mengindikasikan bahwa lokasi tersebut pernah menjadi tempat berkumpulnya komunitas prasejarah.
Penjelasan Ilmiah tentang Penemuan
Ketua penggalian, Phil Harding, menyatakan bahwa dua lubang tiang ini membuka wawasan mendalam tentang kehidupan masyarakat 5.000 tahun lalu; bagaimana mereka berpikir, berperilaku, dan mempersembahkan penghormatan kepada langit. Dr. Fabio Silva, arkeoastronom dari Bournemouth University, turut menjelaskan bahwa posisi kedua tiang ini sangat tepat diselaraskan dengan posisi matahari pada solstis, setelah dilakukan rekonstruksi posisi benda langit di masa lalu.
Tiang dengan tinggi diperkirakan 2 hingga 4 meter ini berada sekitar 120 meter satu sama lain. Seperti Stonehenge, fenomena matahari muncul dari posisi tertentu yang berkaitan dengan tiang ini, menegaskan peran astronomi dan ritual dalam konstruksi pusaka ini.
Dampak dan Analisa Penemuan
Penemuan ini bukan sekadar memperkaya wawasan tentang sejarah Stonehenge, tapi juga menegaskan perkembangan kemampuan masyarakat prasejarah dalam memahami siklus alam. Struktur yang sederhana ini menandai titik awal di mana manusia mulai mengukur dan menghormati fenomena alam penting seperti solstis. Hal ini juga memberi gambaran bahwa penduduk prasejarah di wilayah Bulford memiliki pengetahuan astronomi yang cukup maju.
Penggalian ini menguatkan teori bahwa sebelum penciptaan monumen besar, masyarakat menggunakan metode sederhana yang bertahap berkembang menjadi situs legendaris seperti Stonehenge.
Ringkasan
Penemuan dua tiang kayu berusia 5.000 tahun di Bulford menampilkan versi awal Stonehenge yang jauh lebih sederhana namun tetap akurat secara astronomi. Situs ini membuktikan adanya komunitas yang sudah mengamati serta merayakan peristiwa solstis jauh sebelum monumen batu raksasa berdiri. Temuan ini semakin memperdalam pemahaman kita mengenai ritual dan sains yang berkembang sejak zaman Neolitikum di Inggris.
FAQ
Apa perbedaan utama antara penemuan di Bulford dengan Stonehenge?
Struktur di Bulford jauh lebih sederhana, hanya terdiri dari dua tiang kayu yang berusia 5.000 tahun, sementara Stonehenge berupa susunan batu besar yang lebih kompleks dan berumur sekitar 4.500 tahun.
Bagaimana posisi dua tiang kayu tersebut berhubungan dengan fenomena alam?
Posisi kedua tiang kayu itu sejajar dengan matahari saat solstis musim panas dan musim dingin, menandakan fungsi astronomi dan ritual seperti halnya Stonehenge.