Harga Pertamax Meroket, Diperkirakan 10% Konsumen Beralih ke Pertalite: Apa Dampaknya?
Baca juga
- Digitalisasi Jadi Penyelamat Ekonomi Aceh Saat Bencana Besar Melanda
- Interport Sandikala VII Meluncur Perdana, Buka Peluang Baru Logistik Maritim Indonesia
- Bank bjb Bersama OJK Jawa Barat Dorong Kemandirian Keuangan Penyandang Disabilitas
- Kebakaran KMP Aceh Hebat 2: ASDP Fokus Pemulihan dan Pendampingan Korban
- Kepastian Menkeu Purbaya Dongkrak Kepercayaan Investor dan Penguatan Pasar Domestik

Harga Pertamax Meroket, Diperkirakan 10% Konsumen Beralih ke Pertalite: Apa Dampaknya?
diupdate.id - Pernahkah Anda merasa kenaikan harga bahan bakar membuat Anda harus ekstra bijak dalam memilih BBM? Kenaikan tajam harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter membuat sebagian pengguna mulai berpikir ulang untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memproyeksikan sekitar 10 persen konsumen Pertamax akan beralih memilih Pertalite, yang harganya jauh lebih murah.
Lonjakan Harga Pertamax dan Respons Konsumen
Harga Pertamax, yang semula Rp12.300 per liter, naik hampir 32 persen menjadi Rp16.250 per liter. Bandingkan dengan harga Pertalite yang tetap stabil di Rp10.000 per liter, selisih harga kini mencapai Rp6.250 per liter — angka terlebar dalam sejarah BBM Indonesia. Fenomena ini memicu pergeseran yang cukup signifikan dari Pertamax ke Pertalite, mengingat konsumen tidak mengurangi aktivitas mobilitas sehari-hari.
Analisa Dampak Kenaikan Harga BBM untuk Berbagai Kelompok Konsumen
Menurut Yayan, para pengguna mobil yang rutin mengisi 100 liter Pertamax per bulan harus menambah pengeluaran sekitar Rp395 ribu. Sementara pengendara motor dengan konsumsi 30 liter per bulan menanggung tambahan biaya sekitar Rp119 ribu. Ini tentu berimbas pada anggaran rumah tangga, terutama kelas menengah yang mulai mencari opsi BBM lebih ekonomis.
Lebih jauh, penggunaan Pertamax cenderung didominasi golongan menengah atas hingga terkaya. Kenaikan harga ini justru terasa berat bagi mereka yang berada pada desil pendapatan 8 hingga 10, terutama karena larangan pemakaian BBM subsidi untuk armada usaha besar menambah beban finansial mereka. Namun sebaliknya, kelompok termiskin hampir tidak terdampak karena jarang menggunakan Pertamax.
Ketersediaan Pertalite dan Imbauan Pertamina
Meski terjadi perpindahan konsumen, PT Pertamina Patra Niaga memastikan kuota Pertalite masih mencukupi dan distribusi berjalan lancar tanpa kelangkaan. Ini penting untuk diperhatikan agar masyarakat tetap dapat mengakses BBM subsidi seperti Pertalite dengan baik. Pertamina juga mengimbau masyarakat agar membeli BBM sesuai kebutuhan dan jenis kendaraan, untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi.
Kesimpulan: Kenaikan Harga Pertamax sebagai Triggers Perubahan Konsumsi BBM
Kenaikan harga Pertamax mendorong perubahan perilaku konsumen yang cenderung memilih BBM lebih terjangkau, yakni Pertalite. Meski hanya sekitar 10 persen konsumen yang diperkirakan beralih, dampaknya cukup terasa terutama di segmen menengah ke atas. Sementara itu, kuota Pertalite diprediksi masih mampu menyokong lonjakan permintaan. Kenaikan ini juga menunjukkan bagaimana beban kenaikan harga BBM lebih terasa pada kelompok yang mampu, sekaligus mengingatkan pentingnya penggunaan BBM sesuai kebutuhan dan karakteristik kendaraan.
FAQ
Mengapa konsumen beralih dari Pertamax ke Pertalite?
Kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan membuat konsumen mencari alternatif BBM yang lebih murah, yaitu Pertalite.
Apakah kuota Pertalite cukup untuk menampung peningkatan permintaan?
Menurut Pertamina, kuota Pertalite masih mencukupi dan distribusi BBM subsidi ini berjalan normal tanpa kelangkaan.