Iran Tegaskan Akan Blokir Kapal Perang di Selat Hormuz, Negosiasi dengan AS Ikut Terseret
Baca juga
- Adzan Pertama di Masjid Al Aqsa Usai 40 Hari Ditutup, Tanda Kembalinya Harapan di Fajar yang Sunyi
- Gencatan Senjata Iran Disebut Bikin AS Rugi Strategis, Ini Dampak dan Poin Pentingnya
- PBB Rilis Temuan Awal soal Gugurnya 3 TNI di Lebanon, Israel dan Hezbollah Disebut Terkait
- Iran Klaim Menang Besar, Trump Disebut Setuju 10 Poin untuk Akhiri Perang
- Paus Leo XIV Serukan Para Pemimpin Dunia Letakkan Senjata, Pilih Perdamaian di Paskah

diupdate.id - Iran kembali membuat tensi di Timur Tengah meningkat. Di tengah pembicaraan yang masih berjalan dengan Amerika Serikat, Teheran menegaskan bahwa kapal perang tidak akan dibiarkan melintasi Selat Hormuz. Pernyataan keras ini langsung menyita perhatian karena jalur laut tersebut termasuk salah satu rute paling strategis di dunia.
Pernyataan itu disampaikan Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Mereka menyebut akan mencegah secara tegas setiap upaya kapal perang untuk melewati jalur tersebut. Sementara itu, kapal sipil disebut tetap bisa melintas, tetapi dengan kondisi tertentu.
Iran Tegaskan Posisi di Selat Hormuz
Dalam keterangan yang dikutip kantor berita Fars pada Ahad (12/4/2026), IRGC mengklaim memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Klaim ini memperlihatkan bahwa Iran ingin menunjukkan posisi dominan di salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi global.
Di saat yang sama, IRGC juga membantah laporan bahwa kapal perang Amerika Serikat telah melintasi Selat Hormuz. Bantahan ini muncul setelah sebelumnya Fars melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran memantau pergerakan sebuah kapal perusak milik Angkatan Laut AS yang berangkat dari pelabuhan Fujairah menuju selat tersebut.
Menurut laporan itu, aktivitas kapal tersebut juga sudah disampaikan ke delegasi Iran di Islamabad, lalu diteruskan ke pihak AS melalui perantara Pakistan. Iran bahkan disebut sudah memberi peringatan keras. Jika kapal itu tetap melanjutkan perjalanan, kapal tersebut dikabarkan akan menjadi sasaran serangan dalam waktu 30 menit. Namun, informasi ini berasal dari laporan media Iran dan belum dikonfirmasi secara independen.
Negosiasi Iran-AS Masih Berlangsung
Situasi ini terjadi ketika Iran dan AS sedang memulai pembicaraan di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Teheran pada malam 8 April. Hingga berita ini dilaporkan, pembicaraan tersebut telah berlangsung lebih dari delapan jam.
Putaran ketiga negosiasi juga masih berjalan. Menurut televisi pemerintah Iran, salah satu isu utama yang diperdebatkan adalah soal Selat Hormuz. Artinya, wilayah ini bukan hanya masalah militer, tetapi juga bagian penting dari kalkulasi diplomasi antara dua negara yang sedang berusaha meredakan ketegangan.
Dampak Strategis Jika Ketegangan Berlanjut
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital bagi kapal-kapal pengangkut energi dunia. Karena itu, setiap pernyataan keras dari Iran langsung berdampak pada sentimen pasar dan keamanan pelayaran. Jika situasi makin panas, risiko gangguan distribusi energi dan meningkatnya biaya pengiriman bisa ikut membesar.
Delegasi Iran dalam pembicaraan itu dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Akbar Ahmadian, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati. Sementara dari pihak AS, delegasi dipimpin Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantu presiden, Jared Kushner.
Kesimpulannya, Iran tegaskan akan cegah kapal perang melintasi Selat Hormuz bukan sekadar ancaman militer, melainkan sinyal bahwa jalur laut strategis ini masih menjadi kartu penting dalam negosiasi dan pertarungan pengaruh antara Iran dan AS.
FAQ
Mengapa Selat Hormuz penting?
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang sangat vital bagi perdagangan dan distribusi energi dunia.
Apa sikap Iran terhadap kapal perang di selat itu?
Iran menegaskan akan mencegah secara tegas setiap kapal perang yang mencoba melintas, sementara kapal sipil hanya diizinkan dengan kondisi tertentu.
Iran tegaskan akan cegah kapal perang melintasi Selat Hormuz menjadi sorotan utama pada pembahasan ini.