Iran Ultimatum AS: Gencatan Senjata atau Perang Panjang Lewat Israel?
Baca juga
- Menlu Saudi dan Iran Kembali Telepon, Tanda Redanya Ketegangan di Timur Tengah
- AS Mulai Desak Gencatan Senjata dengan Iran di Tengah Rugi Besar, Ini Dampaknya
- Ultimatum 24 Jam Trump untuk Iran dan Dampaknya ke Selat Hormuz
- UNIFIL Diserang Lagi, 3 Personel TNI Luka: Ini yang Terjadi di Lebanon Selatan
- Warga Oslo Turun ke Jalan, Tolak Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina di Depan Opera House

Iran Ultimatum AS: Gencatan Senjata atau Perang Panjang Lewat Israel?
diupdate.id - Kesepakatan damai yang baru diumumkan ternyata langsung diuji. Belum sempat gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terasa stabil, situasi justru memanas setelah serangan besar Israel ke Lebanon pada hari yang sama. Iran pun mengirim sinyal keras: Washington harus memilih, damai atau perang yang terus berlanjut lewat Israel.
Pesan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui platform X pada Rabu (8/4/2026). Menurutnya, syarat dalam gencatan senjata Iran-AS sangat jelas. AS, kata dia, tidak bisa berada di dua posisi sekaligus: mengklaim mendukung perdamaian, tetapi membiarkan konflik tetap menyala melalui sekutunya di kawasan.
Iran sebut AS tak bisa “punya dua-duanya”
Dalam unggahannya, Araghchi menegaskan bahwa Amerika harus menentukan sikap. Jika ingin gencatan senjata berjalan, maka eskalasi lewat Israel harus dihentikan. Jika tidak, maka kesepakatan itu berisiko kehilangan makna sejak awal. Ia juga menyebut dunia sedang menyaksikan apa yang terjadi di Lebanon dan menunggu langkah nyata dari Washington.
Masih mengutip sumber yang dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim, Teheran disebut akan menarik diri dari kesepakatan jika Israel terus melanggar lewat serangan ke Lebanon. Walau begitu, detail teknis soal konsekuensi resmi dari langkah tersebut belum dikonfirmasi lebih lanjut.
Serangan Israel picu korban besar di Lebanon
Di sisi lain, tentara Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 100 lokasi hanya dalam 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan. Serangan itu disebut sebagai koordinasi terbesar sejak operasi terbaru dimulai.
Dari laporan yang beredar, jumlah korban tewas sedikitnya mencapai 254 orang, termasuk 92 di Beirut. Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine mengatakan kondisi di lapangan sangat berbahaya karena serangan udara menargetkan wilayah padat warga sipil di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, hingga bagian selatan negara itu.
Dampaknya bagi kawasan belum berhenti di sini
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata Iran-AS ketika konflik di lapangan masih bergerak cepat. Selama serangan Israel ke Lebanon terus berlangsung, peluang meredanya ketegangan di Timur Tengah ikut menipis. Bagi AS, tekanan diplomatik pun makin besar karena publik internasional kini menyorot apakah Washington benar-benar mampu menjaga komitmennya.
Dengan eskalasi yang masih berlangsung, arah konflik ke depan akan sangat bergantung pada langkah lanjutan AS, Iran, dan Israel. Jika tidak ada penahanan diri dari semua pihak, gencatan senjata yang baru lahir ini bisa berubah menjadi jeda singkat sebelum konflik membesar lagi.
Pada titik ini, dunia menunggu bukan hanya pernyataan, tetapi tindakan. Dan seperti yang ditegaskan Teheran, bola kini ada di tangan AS.
FAQ
Apa inti ultimatum Iran kepada AS?
Iran meminta AS memilih antara benar-benar menjalankan gencatan senjata atau membiarkan perang berlanjut melalui Israel.
Mengapa gencatan senjata dianggap rapuh?
Karena serangan besar Israel ke Lebanon terjadi di hari yang sama dengan pengumuman gencatan senjata, sehingga memicu ketegangan baru.