Rupiah Melemah, Harga Kedelai Naik Tapi Masih Aman di Bawah HET di Jateng
Baca juga
- Lebih Mudah Berkurban Idul Adha 1447 H dengan Aplikasi Raya, Dapatkan Cashback Menarik!
- Pertumbuhan Aset DPLK IFG Life 347%: Kunci Sukses dan Dampaknya
- Bos Next Sebut Penurunan Drastis Peluang Kerja Tingkat Pemula, Apa Dampaknya untuk Pemuda?
- Airlangga: Kebijakan WFH Beri Dampak Positif, Konsumsi BBM Turun Hampir 9 Persen
- QRIS Indonesia Resmi Masuk Pasar China, Transaksi Digital Makin Mudah dan Aman

Rupiah Melemah, Harga Kedelai Naik Tapi Masih Aman di Bawah HET di Jateng
diupdate.id - Siapa sangka, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali berdampak pada harga bahan baku pokok produsen tahu dan tempe di Jawa Tengah. Meski ada kenaikan harga kedelai, masyarakat dan pelaku usaha masih bisa bernafas lega karena harga belum melewati batas wajar.
Kenaikan Harga Kedelai di Tengah Pelemahan Rupiah
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Julie Emmy, mengakui harga kedelai saat ini naik dari Rp10.700 menjadi Rp11.100 per kilogram. Kenaikan ini dipengaruhi oleh melemahnya rupiah terhadap dolar AS, yang otomatis membuat impor kedelai menjadi lebih mahal.
Meski demikian, harga sekarang masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp12.000. Sebagai pembanding, pada tahun lalu harga kedelai sempat menembus angka Rp14.000 per kilogram, jauh di atas batas HET yang berlaku.
Faktor Penyebab dan Upaya Pemerintah
Kenaikan harga kedelai ini terjadi karena beberapa faktor, antara lain berkurangnya produksi kedelai lokal dan pengurangan kuota impor akibat situasi global yang tidak menentu. Indonesia sendiri mengimpor kedelai dari sejumlah negara utama seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil. Meski demikian, pengiriman dari Brasil relatif minim terdampak konflik di Selat Hormuz.
Untuk menjaga ketersediaan kedelai di Jawa Tengah, Disperindag terus berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan. Mereka berupaya mengamankan rantai pasok serta menata ulang tata niaga kedelai agar harga tetap stabil dan pasokan aman bagi produsen tahu-tempe.
Dampak Kenaikan Harga dan Prediksi ke Depan
Bagi produsen tahu-tempe, kenaikan harga kedelai tentu menambah beban biaya produksi. Namun, mereka berusaha meminimalisir dampak ini dengan mengurangi margin keuntungan agar harga jual tetap terjangkau konsumen. Jika rupiah terus melemah dan impor sulit ditingkatkan, kemungkinan harga kedelai akan terus naik, yang berpotensi mengguncang sektor industri olahan kedelai di Jateng.
Ringkasan
Pelemahan rupiah mengerek harga kedelai di Jawa Tengah dari Rp10.700 ke Rp11.100 per kilogram, masih di bawah HET Rp12.000. Produksi lokal yang menurun dan pembatasan impor jadi penyebab utama. Disperindag Jateng bekerjasama dengan pemerintah pusat untuk menjaga stok dan harga kedelai tetap terjangkau, demi kestabilan industri tahu-tempe. Kondisi ini mengingatkan perlunya waspada jika kondisi valuta asing terus bergejolak.
FAQ
Mengapa harga kedelai naik di Jawa Tengah?
Harga kedelai naik karena pelemahan rupiah yang membuat impor lebih mahal dan produksi lokal berkurang.
Apakah harga kedelai sudah melampaui harga eceran tertinggi?
Belum, harga kedelai saat ini masih di bawah HET yaitu Rp12.000 per kilogram.