Rupiah Terus Melemah, Pemerintah Bentuk Badan Ekspor dan Dampaknya Terhadap Pasar
Baca juga
- Ledakan di Pabrik Kimia Cilegon, Karyawan Langsung Dipulangkan Demi Keselamatan
- Astra Siapkan Strategi Baru Menuju 70 Tahun, Fokus pada Tiga Bisnis Utama
- Pelemahan Rupiah Saat Ini Tak Sama dengan Krisis Moneter 1998, Ini Penjelasannya
- BP BUMN Tuntut PTPN Hentikan Kasus Hukum terhadap Kakek Mujiran
- Bank Jakarta Gencarkan Transformasi Digital, Raih 7 Penghargaan Bergengsi

Rupiah Terus Melemah, Pemerintah Bentuk Badan Ekspor dan Dampaknya Terhadap Pasar
diupdate.id - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan di pasar valuta asing. Pada perdagangan Senin (25/5/2026), rupiah terkoreksi ke level Rp17.744 per dolar AS, melemah sekitar 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya. Apa yang menyebabkan mata uang garuda kembali melemah serta bagaimana pembentukan badan ekspor baru menjadi sorotan para analis?
Faktor Internal Menjadi Penyebab Pelemahan Rupiah
Sejumlah analis mengamati bahwa pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang diumumkan pemerintah pekan lalu menjadi salah satu sentimen negatif bagi rupiah. DSI merupakan badan ekspor yang bertugas mengawasi dan mengelola ekspor komoditas secara lebih sentralisasi. Tujuannya adalah menekan praktik kurang bayar (underinvoicing), transfer pricing, dan pelarian devisa hasil ekspor yang selama ini merugikan negara.
Namun, langkah ini menuai kritik karena berpotensi menimbulkan persepsi risiko pada investor. Salah satu analis, Ibrahim, menyebutkan bahwa kehadiran DSI bisa memicu penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga internasional seperti S&P Global. Kekhawatiran pasar terhadap kebijakan ini berdampak langsung pada pelemahan rupiah.
Defisit Anggaran dan Kebijakan Pemerintah Tambah Tekanan
Selain itu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih menjadi perhatian investor turut memperberat kondisi rupiah. Meskipun harga minyak dunia tengah turun, sentimen positif tersebut belum mampu mendorong penguatan rupiah. Kondisi ini semakin kontras dibandingkan mata uang negara-negara tetangga yang menguat pada waktu bersamaan.
Lebih jauh, kebijakan pemerintah yang dianggap kurang mendukung pasar juga memperpanjang tekanan pada nilai rupiah. Analis memperkirakan pelemahan rupiah dapat berlanjut dengan potensi koreksi sekitar 50–60 poin pada perdagangan selanjutnya.
Dampak dan Prospek Nilai Tukar Rupiah
Pelemahan rupiah yang berkelanjutan menunjukkan tantangan fundamental ekonomi domestik yang belum terselesaikan. Karena rupiah merupakan indikator kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia, volatilitas ini bisa mempengaruhi investasi dan biaya impor barang. Sementara itu, kebutuhan pemerintah untuk mengatasi praktik perdagangan ilegal dan menyelesaikan defisit anggaran harus diimbangi dengan kebijakan yang dapat menenangkan pasar.
Ke depan, kebijakan moneter The Fed juga perlu diperhatikan sebagai faktor eksternal yang memengaruhi rupiah. Kenaikan suku bunga dolar AS pada Mei 2026 bisa menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ringkasan
Rupiah yang melemah ke angka Rp17.744 per dolar AS pada akhir pekan ini disebabkan oleh kombinasi sentimen negatif internal seperti pembentukan badan ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia, defisit APBN yang masih menekan pasar, serta kebijakan pemerintah yang belum mendukung penguatan rupiah. Meskipun ada peluang kebijakan baru untuk menstabilkan kondisi, investor tetap perlu mewaspadai potensi pelemahan berlanjut sambil memantau dinamika kebijakan The Fed dan kondisi ekonomi global.
FAQ
Apa penyebab utama pelemahan rupiah saat ini?
Pelemahan rupiah terutama dipicu oleh pembentukan badan ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia, defisit APBN, dan kebijakan pemerintah yang kurang mendukung pasar.
Bagaimana pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia memengaruhi rupiah?
Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai badan ekspor tunggal menimbulkan kekhawatiran investor dan potensi penurunan peringkat utang yang melemahkan nilai rupiah.
rupiah melemah menjadi sorotan utama pada pembahasan ini.