Survei Terbaru LSI: 94% Masyarakat Indonesia Ingin Kepala Daerah Tetap Dipilih Langsung
Baca juga
- Penyiraman Andrie Yunus: Fakta, Kritik, dan Implikasi Kasus Kekerasan Aktivis
- Pohon Tumbang di Cipayung Jakarta Timur Menghambat Akses Jalan, Warga Terdampak
- Andrie Yunus Berjuang Kembali Setelah Lima Operasi Akibat Penyiraman Air Keras
- 119 Personel Pasmar TNI Jalani Pemeriksaan Mendalam Usai Insiden Peluru Nyasar di Gresik
- Pesan Prabowo Bikin Pesilat Muda Tersentuh, Pencak Silat Disebut Bisa Menuju Olimpiade

Survei LSI Ungkap 94% Warga Indonesia Pilih Kepala Daerah Langsung, Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Mundur Demokrasi
diupdate.id - Pemilihan kepala daerah selalu menjadi momen penting dalam demokrasi Indonesia. Namun, belakangan muncul wacana untuk mengubah mekanisme pilkada menjadi dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), bukan langsung oleh rakyat. Bagaimana sebenarnya sikap masyarakat? Survei terbaru dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) memberikan gambaran jelas.
Mayoritas Warga Pilih Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung
Survei LSI yang melibatkan 2.020 responden di seluruh Indonesia pada 4-12 Maret 2026 menunjukkan hasil mengejutkan. Sebesar 94,3% responden menginginkan Gubernur tetap dipilih langsung oleh rakyat melalui pilkada, sementara hanya 4,6% yang mendukung pemilihan melalui DPRD. Sisanya 1,1% merespon tidak tahu atau tidak menjawab.
Hal serupa juga terjadi pada pemilihan Bupati dan Wali Kota. Sebanyak 95% responden lebih memilih pilkada langsung, dibandingkan 4,1% yang ingin melalui DPRD. Data ini menegaskan kuatnya preferensi publik terhadap demokrasi partisipatif di tingkat daerah.
Wacana Pilkada Lewat DPRD dan Reaksi Berbagai Pihak
Wacana pengalihan pilkada ke DPRD mulai mencuat sejak awal 2026, dengan enam dari delapan fraksi di DPR memberikan restu, antara lain Gerindra, Golkar, PKB, NasDem, PAN, dan Demokrat. Namun, PKS mengusulkan batasan hanya pada tingkat kabupaten, dan PDIP menolak keras perubahan ini.
Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) mengkritik keras ide tersebut, menilai langkah ini sebagai kemunduran demokrasi. Jika pilkada langsung dihapus dan diganti lewat DPRD, "rakyat tak lagi memiliki hak untuk memilih kepala daerah". Kritik ini menyoroti risiko terpinggirkannya suara rakyat dalam pengambilan keputusan politik di daerah.
Dampak dan Analisa: Mengapa Pilkada Langsung Dianggap Penting?
Pilkada langsung memberikan legitimasi kuat bagi kepala daerah, menciptakan akuntabilitas langsung kepada publik, dan meningkatkan partisipasi demokrasi. Mengubah mekanisme ini berpotensi melemahkan kontrol rakyat terhadap wakil mereka dan memunculkan konflik kepentingan politik internal DPRD.
Di sisi lain, para pendukung wacana menganggap pemilihan lewat DPRD bisa mengurangi biaya politik dan meningkatkan efektivitas pengawasan legislatif. Namun, survei LSI jelas membuktikan bahwa mayoritas masyarakat belum siap mengorbankan hak suara langsung demi alasan tersebut.
Kesimpulan
Hasil survei LSI menunjukkan dukungan luar biasa masyarakat Indonesia terhadap pilkada langsung sebagai cara memilih kepala daerah. Wacana mengubah sistem ini menjadi lewat DPRD tidak hanya bertentangan dengan aspirasi rakyat, tapi juga mendapat kritik tajam dari kalangan pengamat demokrasi. Komisi II DPR sendiri belum menetapkan jadwal pembahasan terkait usulan ini, sehingga masa depan pilkada langsung tetap menjadi pilihan utama bagi mayoritas warga Indonesia.
FAQ
Apa hasil utama survei LSI tentang pilkada?
Mayoritas 94,3% responden mendukung kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui pilkada.
Mengapa wacana pilkada lewat DPRD menuai penolakan?
Karena dianggap menghilangkan hak rakyat memilih secara langsung dan merupakan kemunduran demokrasi.