Bahlil dan Korsel Bersinergi Kembangkan Energi Bersih untuk Antisipasi
Baca juga
- Kendaraan Listrik Jadi Kunci Mewujudkan Kemandirian Energi Indonesia, Ini Alasannya!
- IESR: Kebijakan B50 Hanya Solusi Sementara Atasi Krisis Energi Nasional, Apa Selanjutnya?
- Konflik Timur Tengah, Pasokan Pelumas ADNOC di Indonesia Tetap Aman dan Harga Stabil
- Bahlil Dorong Akselerasi Konversi Motor Listrik, IESR Soroti Kendala
- Indonesia dan Korea Selatan Percepat Pengembangan Energi Bersih Lewat

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Bahlil Lahadalia, resmi menjalin kerja sama dengan Korea Selatan guna memperkuat dan mempercepat pengembangan energi bersih di Indonesia. Kesepakatan ini muncul pada saat ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi semakin meningkat, yang menimbulkan tekanan pada ketahanan energi nasional.
MoU Kerja Sama Energi Bersih Ditandatangani di Seoul
Kemajuan kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bahlil Lahadalia dan Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan, Kim Sungwhan. Prosesi ini berlangsung bertepatan dengan pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Blue House, Seoul, pada Rabu pagi tanggal 1 April 2026 waktu setempat.
MoU ini diagendakan untuk menjadi dasar pengembangan bersama di bidang transisi energi, mendukung pemanfaatan energi bersih sesuai dengan kapasitas masing-masing negara. Bahlil menegaskan bahwa kerja sama ini sangat strategis bagi masa depan ketahanan energi Indonesia.
Fokus Kerja Sama pada Energi Terbarukan dan Teknologi Masa Depan
Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk memperluas kolaborasi pada berbagai sektor energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, energi angin, hingga panas bumi. Selain itu, kedua pihak juga akan berkolaborasi dalam pengembangan energi masa depan, seperti penggunaan energi nuklir dan hidrogen.
Kedua negara juga menargetkan penguatan sistem penyimpanan energi dan upaya meningkatkan efisiensi energi. Pengolahan limbah menjadi sumber energi pun menjadi bagian dari cakupan kerja sama ini. Bahlil menyebut bahwa sinergi antara kedua negara yang saling melengkapi potensi dan keunggulan akan sangat menguntungkan untuk kemandirian energi masing-masing.
Pengembangan Infrastruktur dan Akses Energi Bersih untuk Wilayah Terpencil
Kerja sama ini tidak hanya berhenti pada pengembangan sumber energi, namun juga meliputi pembangunan infrastruktur pendukung seperti smart grid, stasiun pengisian kendaraan listrik, serta fasilitas pengolahan baterai mulai dari produksi hingga daur ulang.
Pemerintah Indonesia menargetkan agar akses energi bersih dapat diperluas terutama di wilayah-wilayah terpencil. Sistem energi terpadu untuk pulau-pulau mandiri energi pun menjadi bagian dari fokus kerja sama, dengan harapan agar manfaat energi bersih dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.
Kesimpulan
Kemitraan antara Indonesia dan Korea Selatan ini menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan ketahanan energi global. Dengan kolaborasi pada energi terbarukan dan teknologi masa depan, Indonesia berharap dapat mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Seluruh upaya ini sekaligus bertujuan untuk menjaga kemandirian energi nasional dan menjawab tantangan krisis energi yang mungkin terjadi di masa mendatang.