Bayi 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung Ungaran, Ahli Ingatkan Usia Aman Anak Mendaki
Baca juga
- Cuaca Panas Bisa Bikin Lansia Linglung, Ini Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai
- 3 Khasiat Jahe Campur Bawang Putih yang Jarang Dibahas, Pasutri Bisa Ikut Merasakan Manfaatnya
- Tips Menjaga Kesehatan Mental dengan Langkah Sederhana yang Konsisten
- Bali Dekati UHC Sempurna, Begini Dampak Rp300 Miliar untuk Kesehatan
- Kunci Performa Prima Ternyata Ada di Recovery, Bukan Latihan Saja

Bayi 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung Ungaran, Ahli Ingatkan Usia Aman Anak Mendaki
diupdate.id - Kasus bayi perempuan berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat dibawa mendaki Gunung Ungaran, Semarang, menjadi pengingat keras bahwa alam tidak selalu ramah, terutama bagi anak kecil. Di tengah perubahan cuaca yang datang tiba-tiba pada Sabtu, 11 April 2026, kondisi sang bayi memburuk saat berada di jalur pendakian.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan penting: kapan sebenarnya anak dianggap cukup siap untuk mendaki gunung? Menurut dokter spesialis Global Health & Tropical Medicine, dr Angie Erditha, kejadian tersebut bukan sekadar musibah biasa, melainkan konsekuensi dari keputusan yang kurang bijak.
Bukan Versi Kecil Orang Dewasa
Dr Angie menegaskan bahwa bayi dan balita tidak bisa diperlakukan seperti orang dewasa dalam ukuran mini. Tubuh mereka memiliki cara kerja yang berbeda, terutama saat menghadapi suhu dingin. Karena itu, membawa anak kecil ke medan pegunungan berisiko tinggi, apalagi bila kondisi cuaca berubah mendadak.
Ia juga mengingatkan bahwa gunung bukan tempat wisata keluarga yang bisa dihadapi tanpa persiapan serius. Dalam situasi seperti ini, kasih sayang saja tidak cukup untuk melindungi anak dari paparan dingin dan risiko gangguan kesehatan lain. Pada kasus hipotermia, tubuh anak bisa kehilangan panas lebih cepat, sementara cadangan energinya terbatas untuk melawan kondisi ekstrem.
Usia Ideal Anak Mendaki Masih Bersifat Relatif
Secara ilmiah, dr Angie menyebut tidak ada usia yang benar-benar aman untuk semua anak saat mendaki gunung. Namun, jika harus menyebut angka minimal, ia memperkirakan usia di atas 7 tahun bisa menjadi titik awal, itu pun dengan syarat tertentu. Artinya, bukan hanya soal umur, tetapi juga kesiapan fisik dan persiapan yang matang.
Penjelasan ini penting karena masih banyak orang tua yang beranggapan anak akan lebih tahan dingin atau lebih kuat dari yang terlihat. Padahal, anggapan tersebut keliru. Pada bayi, suhu tubuh yang tampak hangat justru bisa menandakan tubuh bekerja lebih keras agar tetap stabil.
Dampak dan Pelajaran untuk Orang Tua
Kasus hipotermia di Gunung Ungaran memberi pelajaran bahwa aktivitas mendaki bersama anak perlu dipertimbangkan sangat hati-hati. Kondisi cuaca di pegunungan bisa berubah cepat, dan anak-anak jauh lebih rentan terhadap paparan dingin, kelelahan, serta dehidrasi.
Bagi orang tua, keputusan membawa anak ke gunung seharusnya tidak hanya didasari semangat liburan atau kebersamaan, tetapi juga penilaian risiko yang matang. Dalam konteks ini, hipotermia pada anak bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan juga soal kesiapan tubuh dan tanggung jawab orang dewasa dalam mengambil keputusan.
Singkatnya, pendakian bukan sekadar soal niat baik. Untuk anak kecil, terutama bayi dan batita, keselamatan harus selalu jadi prioritas utama.
FAQ
Apakah ada usia pasti anak aman mendaki gunung?
Menurut dokter, tidak ada usia yang benar-benar aman untuk semua anak. Yang ada adalah usia yang lebih siap secara fisiologis dan didukung persiapan matang.
Berapa usia minimal anak yang disarankan untuk mendaki?
Jika harus ada angka, dr Angie menyebut sekitar di atas 7 tahun, itu pun dengan kondisi tertentu dan persiapan yang memadai.