BI Ungkap Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi terhadap Inflasi April 2026
Baca juga
- G7 Sepakat Perkuat Rantai Pasok Mineral Kritis, Tutup Celah Ketergantungan pada China
- BNI Tegaskan Dana Nasabah Aman Meski Terjadi Kasus Investasi Fiktif di Aek Nabara
- Sidak Prabowo ke Gudang Bulog: Bukti Nyata Pemerintah Tegaskan Target Swasembada Beras
- Gubernur Pramono Anung Dorong BUMD Jakarta Ekspansi ke Pasar Internasional
- Kementan Ajak Pesantren Jadi Garda Terdepan Sukseskan Swasembada Pangan Nasional

BI Prediksi Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sebabkan Inflasi Naik Tipis 0,04 Persen
diupdate.id - Pada tengah gejolak ekonomi global, kenaikan harga kebutuhan pokok selalu menjadi perhatian utama masyarakat dan pengamat ekonomi. Kali ini, Bank Indonesia (BI) mengungkap gambaran dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi terhadap inflasi nasional, yang ternyata masih cukup terkendali.
Inflasi dari Harga BBM Nonsubsidi Diprediksi Naik Sedikit
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menjelaskan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur April 2026 bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi di bulan ini diperkirakan mendorong inflasi sebesar 0,04 persen. Angka ini tergolong kecil jika dibandingkan penentu inflasi utama lainnya.
"Kenaikan harga BBM nonsubsidi dengan bobotnya di inflasi memang berkontribusi, namun pengaruhnya tidak besar, hanya sekitar 0,04 persen untuk bulan April," jelas Aida.
Proyeksi Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Tetap Stabil
Meski ada tambahan tekanan dari harga BBM, BI yakin tingkat inflasi sepanjang tahun 2026 dan 2027 masih akan berada dalam target yang telah ditetapkan, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen. Artinya, inflasi kemungkinan tetap stabil dan terkendali.
Dari sisi ekonomi makro, faktor eksternal global yang menjadi perhatian utama, khususnya penurunan pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,1 persen menjadi 3 persen. Namun demikian, BI masih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi berada di rentang 4,9 sampai 5,7 persen tahun ini.
Dampak dan Analisa
Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berdampak hanya 0,04 persen terhadap inflasi menunjukkan bahwa pengaruhnya terhadap harga barang dan jasa di dalam negeri masih minimal. Ini penting sebagai sinyal bagi pelaku pasar agar tidak terlalu khawatir bahwa lonjakan BBM akan memicu inflasi besar.
Namun, BI tetap waspada terhadap tekanan dari faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global yang melambat, yang dapat mempengaruhi ekspor dan konsumsi domestik. Kebijakan monetari dan fiskal akan terus disesuaikan agar inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap sehat dan stabil.
Ringkasan
Kenaikan harga BBM nonsubsidi pada April 2026 diperkirakan menambah tekanan inflasi sekitar 0,04 persen, sebuah angka yang relatif kecil. Bank Indonesia menegaskan, inflasi nasional selama 2026 diproyeksikan tetap dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi diperkirakan stabil di angka 4,9-5,7 persen meski ada perlambatan ekonomi global.
FAQ
Berapa besar pengaruh kenaikan harga BBM nonsubsidi terhadap inflasi?
Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan mendorong inflasi sekitar 0,04 persen pada bulan April 2026.
Apakah inflasi akan tetap terkendali meski ada kenaikan harga BBM?
Ya, Bank Indonesia memproyeksikan inflasi tahun 2026 masih dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen, sehingga tetap terkendali.