Emisi Perang di Timur Tengah Memanas, Nelayan Indonesia Ikut Menanggung Dampaknya
Baca juga
- Ketahanan Pangan Jadi Benteng Utama di Tengah Perang, Iklim, dan Disrupsi Teknologi
- Sultan Dorong Relaksasi Belanja Pegawai Daerah, Ini Alasannya untuk APBD
- Bioskop di Bali Rabu 8 April: Project Hail Mary 2026 Resmi Tayang Perdana
- Menaker Yassierli Pastikan Peluang Kerja di Indonesia Tetap Terbuka Meski Dunia Masih Bergejolak
- Update Harga Emas dan Perak Hari Ini: Stabil di Rabu 8 April 2026

Emisi Perang Makin Membengkak, Nelayan Ikut Jadi Korban Krisis Iklim
diupdate.id - Di tengah dunia yang sudah kepanasan, perang justru menambah bahan bakar bagi krisis iklim. Itu sebabnya, konflik bersenjata tidak lagi bisa dilihat semata sebagai urusan geopolitik. Ada jejak lain yang jauh lebih panjang: emisi besar yang ikut mempercepat pemanasan bumi.
Dalam studi yang dikutip The Guardian, serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dalam dua pekan pertama disebut telah menghasilkan 5.055.016 ton CO2. Angka itu setara dengan total emisi 84 negara yang tingkat emisinya rendah. Jika perang berlanjut selama satu tahun, total emisinya diperkirakan melonjak menjadi 131.430.416 ton CO2.
Perang Bukan Hanya Merusak, Tapi Juga Mengotori Atmosfer
Jumlah emisi sebesar itu menunjukkan bahwa perang modern sangat bergantung pada energi fosil. Mesin tempur, logistik militer, dan aktivitas pendukung lain membuat emisi perang terus menumpuk. Karena itu, perang AS dan Israel dalam konteks ini patut dipahami sebagai ancaman iklim, bukan sekadar konflik regional di Asia Barat.
Secara historis, Amerika Serikat memang tercatat sebagai penyumbang emisi terbesar di dunia. Berdasarkan data Our World in Data, sejak 1751 hingga 2017, AS menghasilkan 399 miliar ton emisi atau sekitar 25 persen emisi global. Tak heran bila negara itu sering disebut sebagai the Biggest Carbon Polluter in History.
Dari Forum Dunia ke Dampak di Lapangan
Seruan agar perang dipandang sebagai “kejahatan iklim” menjadi semakin relevan, apalagi menjelang COP 31 di Antalya, Turki. Forum internasional seperti itu dinilai perlu membahas dampak perang terhadap iklim secara lebih serius, karena emisi dari konflik bersenjata ikut mendorong bumi menuju kondisi yang makin ekstrem.
Lembaga Meteorologi Dunia pada 2026 menegaskan bahwa periode 2015 hingga 2025 merupakan 11 tahun terpanas dalam catatan sejarah manusia. Artinya, pemanasan global bukan lagi ancaman jauh di depan mata, melainkan realitas yang sudah dirasakan banyak kelompok rentan.
Salah satu yang paling terpukul adalah nelayan. Di Indonesia, jutaan nelayan masih harus melaut meski cuaca ekstrem kian berbahaya. Sebagian tetap berangkat karena tidak punya pilihan lain untuk menafkahi keluarga. Sebagian lain terpaksa menahan diri karena laut sudah terlalu berisiko. Dalam situasi seperti ini, krisis iklim membuat hidup mereka semakin tidak pasti.
Kewajiban Negara Tak Bisa Ditunda
Dampaknya tidak berhenti di laut. Cuaca ekstrem juga memicu banjir dan longsor yang membuat puluhan juta orang harus mengungsi. Ini menunjukkan bahwa krisis iklim bekerja seperti rantai: perang memperbesar emisi, emisi memperparah panas bumi, lalu bencana menekan masyarakat kecil yang paling sedikit kontribusinya terhadap masalah ini.
Karena itu, kewajiban negara untuk melindungi warga, termasuk nelayan, menjadi semakin mendesak. Perlindungan itu bukan hanya soal bantuan saat bencana, tetapi juga keberpihakan pada kebijakan iklim yang lebih tegas. Jika tidak, kelompok rentan akan terus menanggung beban dari emisi perang dan perubahan iklim yang mereka tidak ciptakan.
Pada akhirnya, krisis iklim mengajarkan satu hal penting: ketika perang membesar, yang paling dulu merasakan akibatnya sering kali bukan para pembuatnya, melainkan masyarakat kecil di garis depan kehidupan.
FAQ
Mengapa perang dikaitkan dengan krisis iklim?
Karena perang menghasilkan emisi besar dari penggunaan energi fosil, alat tempur, dan logistik militer yang mempercepat pemanasan global.
Mengapa nelayan disebut rentan dalam krisis iklim?
Karena mereka sangat bergantung pada kondisi cuaca dan laut, sementara cuaca ekstrem membuat mereka sulit melaut dan meningkatkan risiko keselamatan.