KDM Siapkan Surat Edaran: Warga Jabar Tak Mampu Tak Perlu Pesta Pernikahan, Cukup di KUA
Baca juga
- Sekjen Propindo Kecam 16 Mahasiswa FHUI, Desak Sanksi Tegas dan Investigasi Transparan
- Nadiem Makarim Soroti Audit Kerugian Negara Kasus Chromebook, Rp 2,1 Triliun Jadi Perdebatan
- Darurat Kekerasan terhadap Penyandang Disabilitas, Waka MPR Lestari Desak Langkah Konkret
- Penyiraman Andrie Yunus: Fakta, Kritik, dan Implikasi Kasus Kekerasan Aktivis
- Pohon Tumbang di Cipayung Jakarta Timur Menghambat Akses Jalan, Warga Terdampak

KDM Siapkan Surat Edaran: Warga Jabar Tak Mampu Tak Perlu Pesta Pernikahan, Cukup di KUA
diupdate.id - Di tengah tren pernikahan yang sering dibuat semewah mungkin, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM justru mengirim pesan yang berlawanan arah. Menurutnya, pasangan muda tak perlu memaksakan diri menggelar pesta pernikahan mahal jika kondisi keuangan belum siap. Uang yang seharusnya habis untuk satu malam pesta, kata dia, lebih baik dialihkan untuk hal yang lebih panjang manfaatnya, seperti membeli rumah.
Pesan itu disampaikan KDM saat berada di Balai Nusantara Hunian Warisan Bangsa, Purwakarta, Selasa (14/4/2026) malam. Ia menegaskan, pesta besar tidak boleh menjadi beban baru bagi pasangan muda, terutama generasi Z yang baru memulai kehidupan rumah tangga.
Daripada Jadi Raja Semalam, Lebih Baik Punya Aset
KDM menilai, pernikahan seharusnya menjadi awal kehidupan baru yang sehat secara finansial, bukan justru membuka masalah sejak hari pertama. Karena itu, ia menyarankan agar dana yang biasanya dipakai untuk resepsi bisa dimanfaatkan untuk membeli rumah. Dengan begitu, pasangan pengantin tidak langsung terbebani pengeluaran besar setelah menikah.
Dalam pernyataannya, KDM juga menyinggung rencana penerbitan surat edaran. Isinya akan mendorong warga Jawa Barat yang tidak memiliki kemampuan keuangan cukup untuk tidak memaksakan pesta pernikahan. Cukup menikah di KUA, tanpa resepsi yang memberatkan. Sikap ini sekaligus memperlihatkan dorongan agar masyarakat lebih realistis dalam mengambil keputusan ekonomi saat membangun keluarga.
Fokus ke Hunian, Bukan Gengsi
Selain soal pesta pernikahan, KDM juga menyoroti pentingnya memiliki tempat tinggal. Menurutnya, tidak masalah jika warga hanya mampu membeli rumah subsidi dengan harga terjangkau dan cicilan ringan. Yang lebih penting, rumah itu bisa dirawat dengan baik dan benar-benar menjadi aset keluarga.
Ia menambahkan, bagi warga berpenghasilan rendah, ada sejumlah skema yang bisa dimanfaatkan, mulai dari rumah bersubsidi, bedah rumah, hingga apartemen murah. Pesan ini memperkuat arah kebijakan yang menempatkan hunian sebagai kebutuhan utama, bukan kemewahan sesaat.
Dampaknya bagi Calon Pengantin Muda
Wacana surat edaran KDM berpotensi mengubah cara pandang sebagian masyarakat Jabar terhadap pernikahan. Di satu sisi, ajakan ini bisa membantu pasangan muda menghindari utang demi pesta. Di sisi lain, pesan tersebut juga mendorong pergeseran budaya dari orientasi gengsi menuju perencanaan hidup yang lebih matang. Dalam konteks ekonomi saat ini, langkah seperti ini dinilai relevan karena biaya hidup terus menuntut keputusan yang lebih rasional.
Jika benar diterapkan, surat edaran KDM bisa menjadi pengingat bahwa pernikahan sederhana bukan berarti kurang bermakna. Justru, kesederhanaan dapat menjadi awal yang lebih sehat untuk membangun keluarga, terutama jika prioritas awal diarahkan ke rumah dan stabilitas keuangan.
Dengan pesan itu, KDM tampak ingin menegaskan satu hal: pesta pernikahan mahal bukan ukuran kebahagiaan. Bagi yang belum mampu, menikah di KUA dan menyiapkan masa depan yang lebih aman bisa jadi pilihan yang jauh lebih bijak.
FAQ
Apa isi imbauan KDM soal pernikahan?
KDM mengimbau warga Jabar yang tidak mampu agar tidak memaksakan pesta pernikahan mahal dan cukup menikah di KUA.
Apa alasan KDM menyarankan hal itu?
Ia menilai uang pesta pernikahan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membeli rumah atau kebutuhan masa depan lainnya.