Menhaj Dorong Produk Pangan Indonesia Tembus Pasar Katering Haji Arab Saudi
Baca juga
- Bank Aladin Syariah Cetak Laba Rp150,7 Miliar di 2025, Tumbuh 304 Persen!
- Pembaruan Aturan Suara Azan di Israel: Izin Penggunaan Toa Masjid Kini Lebih Ketat
- PBB Tegaskan 24 Juta Warga Sahel Butuh Bantuan Segera Karena Konflik dan Krisis Iklim
- Alfamidi Siapkan Pembagian Dividen Rp11,85 per Saham, Catat Peningkatan Signifikan Tahun 2025
- Az-Zumar Ayat 53: Harapan Lembut Bagi Pendosa Hebat yang Ingin Kembali

Menhaj Dorong Produk Pangan Indonesia Tembus Pasar Katering Haji Arab Saudi
diupdate.id - Pernahkah Anda menyadari bahwa santan dan ikan patin yang disantap di katering haji terkadang bukan berlabel Indonesia? Menteri Haji dan Umrah RI, Mochammad Irfan Yusuf, menyoroti fenomena ini dan berupaya memperkuat posisi produk pangan nasional di pasar Arab Saudi, khususnya untuk mendukung kebutuhan jutaan jamaah haji Indonesia.
Peluang Besar Komoditas Pangan Indonesia di Arab Saudi
Menurut Gus Irfan, sapaan akrab Menteri Haji dan Umrah, sejumlah produk khas Indonesia seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, hingga bumbu masakan sangat potensial untuk dipasarkan secara resmi sebagai produk nasional di Arab Saudi. Selama ini, sebagian produk tersebut memang digunakan pada katering haji, namun belum tercatat secara resmi karena masuk melalui negara lain dan dilabeli merek asing.
"Kita memiliki berbagai komoditas yang sudah dikenal dan dikonsumsi oleh jamaah. Namun, sayangnya produk-produk seperti santan dan ikan patin yang kita kirim malah dipasarkan dengan merek negara lain," ujarnya dalam siaran pers Kamis (4/6/2026).
Tantangan Logistik dan Geopolitik yang Harus Dihadapi
Meskipun peluangnya besar, pengembangan ekspor komoditas pangan Indonesia ke Arab Saudi tidak tanpa hambatan. Biaya logistik yang tinggi menjadi salah satu kendala utama, ditambah kondisi geopolitik yang kurang stabil di kawasan Timur Tengah turut mempersulit kelancaran pengiriman. Pemerintah sudah melakukan beberapa percobaan pengiriman beras dan bumbu masakan, namun hasilnya belum optimal karena dua faktor tersebut.
Strategi Pemerintah untuk Memperkuat Produk Nasional
Gus Irfan mengungkapkan pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memasukkan ketentuan penggunaan produk pangan Indonesia dalam kontrak penyediaan katering haji. Langkah ini diyakini bisa memberikan kekuatan pasar yang lebih terjamin bagi produk lokal, sekaligus mendorong pengusaha nasional untuk lebih terlibat dalam ekosistem penyelenggaraan haji dan umrah.
"Pada masa depan, kontrak bisa mengatur agar bahan pangan seperti beras dan santan harus dari Indonesia. Ini akan memperkokoh posisi produk kita di pasar Arab Saudi," tambahnya.
Dampak Positif bagi Perekonomian dan Pelaku Usaha Nasional
Bila berhasil, inisiatif ini membuka potensi pasar ekspor yang sangat besar karena setiap tahun ada jutaan jamaah haji dan umrah yang membutuhkan katering dengan cita rasa khas Indonesia. Selain menjaga rasa dan kualitas, hal ini juga akan menguntungkan petani dan pelaku usaha di dalam negeri melalui nilai tambah produk yang diekspor.
Stabilitas kawasan dan perbaikan rantai logistik global menjadi kunci sukses realisasi rencana ini. Jika terkendali, operasi pengiriman akan semakin lancar dan produk lokal bisa menguat di mata konsumen internasional.
Ringkasan
Menteri Haji dan Umrah RI mendorong perluasan ekspor komoditas pangan nasional seperti santan dan ikan patin ke Arab Saudi agar digunakan dalam katering haji. Meski saat ini produk Indonesia banyak yang dipasarkan dengan merek negara lain karena masuk lewat jalur distribusi berbeda, pemerintah berencana memasukkan ketentuan penggunaan produk lokal dalam kontrak katering. Hambatan utama yang perlu diatasi adalah biaya logistik dan ketidakstabilan geopolitik. Jika terwujud, strategi ini akan memperkuat posisi produk pangan Indonesia sekaligus memberi nilai tambah untuk pelaku usaha nasional di pasar internasional yang melayani jutaan jamaah haji dan umrah setiap tahun.
FAQ
Mengapa produk pangan Indonesia di Arab Saudi belum berlabel resmi?
Karena produk tersebut masuk melalui jalur distribusi dari negara lain dan dipasarkan dengan merek asing, sehingga belum tercatat secara resmi sebagai produk nasional Indonesia.
Apa tantangan utama ekspor pangan Indonesia ke Arab Saudi?
Tantangan utamanya adalah tingginya biaya logistik dan situasi geopolitik yang kurang stabil di kawasan Timur Tengah.
ekspor pangan Indonesia menjadi sorotan utama pada pembahasan ini.