Krisis Rupiah Rp18.000, Tahu Cibuntu Terancam Mati Karena Biaya Bahan Baku

Baca juga

Krisis Rupiah Rp18.000, Tahu Cibuntu Terancam Mati Karena Biaya Bahan Baku

Rupiah Melonjak ke Rp18.000 per Dolar, Pengrajin Tahu Cibuntu Terancam Mogok Karena Harga Kedelai Impor Meroket

diupdate.id - Siapa sangka nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat ternyata memicu tantangan serius bagi pengrajin tahu di Bandung. Pasalnya, lonjakan dolar membuat harga kedelai impor yang menjadi bahan utama produksi tahu di sentra industri Tahu Cibuntu merangkak tinggi. Akibatnya, para pengrajin merencanakan mogok massal sebagai bentuk protes dan upaya menyelamatkan usaha mereka.

Harga Kedelai Impor Naik Drastis, Pengrajin Tahu Tertekan

Ketua Paguyuban Pengrajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, Jamaludin, menyatakan bahwa saat ini harga kedelai impor sudah menyentuh Rp11.000 per kilogram. Kedelai yang didatangkan dari Amerika, Kanada, dan Brazil ini menjadi tulang punggung produksi tahu dan tempe di Cibuntu. Kenaikan harga kedelai secara langsung membebani biaya operasional para pengrajin. "Kenaikan nilai dolar membuat harga kedelai terus merangkak naik, sementara para pengrajin kesulitan menaikkan harga tahu dan tempe ke konsumen," ujarnya pada Sabtu (6/6/2026).

Tergantung Kedelai Impor, Sulit Turunkan Risiko Biaya

Mayoritas pengrajin tahu Cibuntu sangat bergantung pada kedelai impor. Fluktuasi nilai tukar rupiah ke dolar berdampak besar terhadap stabilitas bahan baku utama mereka. Jamaludin menekankan kekhawatiran bahwa tidak hanya harga kedelai, bahan baku lain juga akan terdampak jika nilai dolar terus menguat. Hal ini membuat operasi produksi semakin berat dan mengancam keberlangsungan usaha kecil pengrajin tahu di Bandung.

Mogok Massal Sebagai Bentuk Protes dan Upaya Bertahan

Dengan kondisi ini, pengrajin tahu sedang mempertimbangkan aksi mogok massal sebagai langkah terakhir agar suara mereka didengar. Aksi ini diharapkan dapat menarik perhatian pemerintah serta pemangku kepentingan terkait untuk memberikan solusi, seperti kebijakan harga, subsidi, atau diversifikasi bahan baku lokal. "Kami ingin agar keberlangsungan usaha kami tetap terjaga tanpa harus merugikan konsumen dan pengrajin," jelas Jamaludin.

Dampak dan Analisa Sederhana

Kenaikan harga kedelai akibat pelemahan rupiah akan berdampak luas pada sektor produksi tahu dan tempe yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Jika harga jual tahu dan tempe terpaksa naik, daya beli masyarakat bisa menurun, memperlambat pertumbuhan usaha mikro dan kecil yang selama ini menjadi sumber ekonomi lokal. Selain itu, mogok produksi bisa mengganggu pasokan tahu di pasaran, menimbulkan kekosongan barang dan tekanan inflasi bahan makanan.

Ringkasan

Pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS telah memicu gejolak di sektor industri tahu Cibuntu, Bandung. Kenaikan harga kedelai impor hingga Rp11.000 per kilogram membebani pengrajin yang bergantung pada bahan impor tersebut, dan memicu ancaman mogok massal. Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mencari solusi agar pengrajin tahu tetap mampu bertahan, sementara kestabilan harga bahan makanan pokok tetap terjaga.

FAQ

Mengapa pengrajin tahu Cibuntu terancam mogok produksi?

Pengrajin tahu merasa keberlangsungan usaha terancam karena kenaikan harga kedelai impor akibat rupiah melemah ke Rp18.000 per dolar AS, sehingga biaya produksi membengkak.

Bagaimana dampak naiknya harga kedelai impor?

Naiknya harga kedelai impor meningkatkan biaya produksi tahu dan tempe, berpotensi menaikkan harga jual dan mengurangi daya beli masyarakat, serta bisa mengganggu pasokan tahu di pasar.