Rupiah Merosot ke Rp17.614 per Dolar, DPR Desak Bank Indonesia Segera Ambil Langkah
Baca juga
- Tren Wisata Personal Meningkat, Pariwisata Digital Cetak Peluang Ekonomi Baru
- Kadin Gencarkan Kemitraan Internasional untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
- Pemkab Kukar Gencarkan Investasi di Sektor Unggulan Lewat RIRU, Dukung Perkembangan IKN
- Menteri Luar Negeri Jepang Pastikan Kapal Tanker Jepang Lolos Selat Hormuz Tanpa Bayar Tol
- Ekonomi Inggris Tumbuh Tak Terduga di Bulan Maret Meski Konflik Iran Meningkat

Rupiah Merosot ke Rp17.614 per Dolar, DPR Desak Bank Indonesia Segera Ambil Langkah
diupdate.id - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan dan terkoreksi ke angka Rp17.614 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait stabilitas ekonomi dan inflasi harga impor. Komisi XI DPR RI pun angkat suara menuntut langkah cepat dari Bank Indonesia untuk mengatasi pelemahan ini.
Dampak Pelemahan Rupiah dan Tuntutan DPR
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa Bank Indonesia harus mengambil tindakan serius agar nilai tukar rupiah kembali ke level yang semestinya. Nilai tukar rupiah yang terus melemah bisa menyebabkan kenaikan harga barang impor, sehingga berpotensi menimbulkan tekanan inflasi yang cukup berat di dalam negeri.
Misbakhun menyampaikan bahwa Bank Indonesia menyebut rupiah masih berada dalam kondisi undervalued alias berada di bawah nilai wajarnya. Tugas utama BI ke depan adalah memperbaiki hal ini agar kurs rupiah tidak terlalu jauh dari nilai fundamentalnya.
Respons Pemerintah Terhadap Tekanan Eksternal
Dari sisi kebijakan, Kementerian Keuangan meyakinkan bahwa pemerintah akan menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tetap stabil. Menurut Misbakhun, sejauh harga minyak dunia rata-rata tidak melewati angka 100 dolar AS per barel, pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi sampai akhir tahun 2026.
Pemerintah tampak berusaha mencegah lonjakan inflasi lebih lanjut akibat fluktuasi nilai tukar yang dapat berdampak pada biaya impor energi dan kebutuhan pokok.
Analisa Ringan: Kerekatan Koordinasi Ekonomi Jadi Kunci
Situasi pelemahan rupiah kerap jadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan otoritas moneter. Di satu sisi, Bank Indonesia perlu menyeimbangkan intervensi di pasar valuta asing agar nilai tukar tidak terlalu melemah. Di sisi lain, pemerintah harus merancang kebijakan fiskal yang adaptif supaya tekanan inflasi terkendali.
Kolaborasi erat antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Dukungan dari partai politik dan organisasi seperti SOKSI juga menunjukkan adanya keseriusan seluruh elemen negara dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Ringkasan
Rupiah yang merosot ke posisi Rp17.614 per dolar AS menjadi perhatian serius Komisi XI DPR yang mendesak Bank Indonesia segera bertindak. Pelemahan ini bisa memperberat tekanan inflasi khususnya pada barang impor. Pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM subsidi sehingga beban masyarakat tidak bertambah. Secara keseluruhan, koordinasi kebijakan dan respon cepat dari BI dan pemerintah menjadi kunci utama menstabilkan rupiah serta menjaga perekonomian Indonesia tetap sehat di tengah tantangan global.
FAQ
Mengapa rupiah melemah ke Rp17.614 per dolar AS?
Rupiah melemah karena tekanan eksternal seperti menguatnya dolar AS dan faktor pasar global, serta kondisi nilai tukar yang dianggap undervalued oleh Bank Indonesia.
Apa langkah yang diminta DPR kepada Bank Indonesia?
DPR meminta Bank Indonesia mengambil tindakan serius dan cepat untuk mengembalikan kurs rupiah ke nilai yang lebih stabil dan wajar agar tidak memicu inflasi tinggi.