Saudi Tak Sepakat dengan AS, Dorong Trump Hentikan Blokade Pelabuhan Iran

Baca juga

Saudi Tak Sepakat dengan AS, Dorong Trump Hentikan Blokade Pelabuhan Iran

Saudi Tak Sepakat dengan AS, Dorong Trump Hentikan Blokade Pelabuhan Iran

diupdate.id - Langkah keras Washington terhadap Iran ternyata tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari sekutunya sendiri. Di tengah memanasnya perang AS-Israel melawan Iran, Arab Saudi justru disebut khawatir kebijakan blokade pelabuhan Iran oleh Presiden Donald Trump bisa memicu masalah yang lebih besar bagi kawasan Teluk.

Menurut laporan Wall Street Journal, Riyadh mendesak pemerintahan Trump untuk menghentikan blokade Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan. Kekhawatiran utama Saudi sederhana: tekanan berlebihan terhadap Teheran bisa membuat Iran membalas dengan mengganggu jalur pelayaran penting lainnya di kawasan.

Saudi Khawatir Konflik Meluas ke Jalur Laut Vital

Keputusan AS untuk memblokade semua pengiriman Iran yang keluar atau masuk melalui Selat Hormuz dimaksudkan untuk menekan ekonomi Iran yang sudah terpukul. Namun, bagi Arab Saudi, kebijakan itu berisiko membuka babak eskalasi baru. Jika Iran merasa terpojok, Teheran bisa memperluas responsnya ke titik rawan lain, termasuk Bab al-Mandeb di Laut Merah.

Titik tersebut sangat penting bagi ekspor minyak yang masih tersisa dari kerajaan, sehingga gangguan di sana tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga pada arus energi regional. Dalam konteks ini, blokade pelabuhan Iran bukan sekadar isu diplomasi, melainkan juga ancaman nyata bagi stabilitas perdagangan minyak dan gas di Timur Tengah.

Hubungan Riyadh-Teheran Masih Rapuh

Hubungan Arab Saudi dan Iran memang dikenal naik turun. Sebelum perang yang dipicu AS dimulai, kedua negara sempat membuka jalur komunikasi yang lebih intens. Namun hubungan itu kembali menegang setelah Teheran melancarkan serangan ke Riyadh, yang disebut menjadi basis pangkalan AS di Saudi.

Meski begitu, belakangan komunikasi mulai terjalin lagi. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dan Menlu Iran Abbas Araghchi disebut membahas perkembangan terbaru usai pembicaraan Iran-AS di Islamabad. Percakapan itu dilakukan setelah perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan perang.

Islamabad sendiri menjadi lokasi pertemuan langsung AS-Iran pertama dalam lebih dari satu dekade, sekaligus diskusi tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979. Fakta ini menunjukkan bahwa meski konflik masih berjalan, saluran diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Dampak ke Kawasan dan Perhitungan Baru

Selama enam minggu perang, Iran menunjukkan kemampuan untuk menutup jalur air strategis dan menyerang infrastruktur penting di berbagai wilayah. Kondisi ini mengubah perhitungan risiko negara-negara tetangga, termasuk Saudi, yang sangat bergantung pada keamanan jalur laut untuk ekspor energi.

Dengan kata lain, blokade pelabuhan Iran bisa berdampak lebih luas daripada yang dibayangkan. Bukan hanya menekan Iran, tetapi juga berpotensi mengacaukan strategi minyak dan gas jangka panjang negara-negara Teluk. Karena itu, dorongan Saudi agar Washington menahan diri bisa dibaca sebagai upaya mencegah konflik berubah menjadi krisis regional yang lebih mahal.

Pada akhirnya, situasi ini memperlihatkan bahwa tekanan militer dan ekonomi tidak selalu menghasilkan stabilitas. Bagi kawasan Teluk, menjaga jalur pelayaran tetap aman mungkin sama pentingnya dengan memenangkan pertarungan diplomasi.

FAQ

Mengapa Arab Saudi menolak blokade pelabuhan Iran oleh AS?

Karena Riyadh khawatir langkah itu dapat memicu eskalasi baru dan mengganggu jalur pelayaran penting di Teluk dan Laut Merah.

Apa dampak blokade pelabuhan Iran bagi kawasan?

Blokade berpotensi mengganggu perdagangan minyak dan gas, serta meningkatkan risiko gangguan di jalur laut strategis seperti Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.