Selat Hormuz Mendadak Lumpuh Usai Trump Umumkan Blokade, Harga Minyak Melonjak 8 Persen
Baca juga
- Harga Minyak Dunia Tembus 104,91 Dolar AS, Pakar Peringatkan APBN Bisa Terdampak
- Harga Plastik Naik 50 Persen di Jatim, Disperindag Ungkap Penyebab dan Dampaknya
- Telkom Bekali 260 Perempuan Pelaku UMKM Jadi Kreator Digital, Ini Dampaknya untuk Bisnis Mereka
- BSI Bikin Investasi Emas Semudah Beli Kopi, Modal Cuma Rp50 Ribu
- AI Masuk Sawah: Cara Baru Dorong Panen Petani Indonesia Lebih Efisien dan Produktif

Selat Hormuz Mendadak Lumpuh Usai Trump Umumkan Blokade, Harga Minyak Melonjak 8 Persen
diupdate.id - Pasar energi kembali diguncang. Begitu Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, arus kapal di Selat Hormuz langsung berhenti. Dalam hitungan jam, jalur yang dikenal sebagai salah satu titik paling krusial bagi pengiriman minyak dunia itu berubah total, dan harga minyak pun disebut melonjak 8 persen.
Peristiwa ini terjadi pada Senin, 13 April 2026, pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB. Menurut laporan intelijen maritim Lloyd's List yang berbasis di London, lalu lintas yang sebelumnya sudah berjalan terbatas mendadak terhenti setelah kapal-kapal mulai berbalik arah di Selat Hormuz.
Lalu lintas kapal berhenti total di jalur vital energi
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur penting bagi distribusi minyak dari kawasan Teluk. Karena itu, setiap gangguan di area ini hampir selalu langsung terasa di pasar global. Dalam kasus terbaru ini, blokade diumumkan setelah Amerika Serikat meningkatkan operasi pembersihan ranjau dan menilai Iran tidak menepati komitmen untuk membuka kembali jalur air internasional tersebut.
Situasi makin tegang setelah pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026), gagal menghasilkan kesepakatan. Negosiasi itu digelar di tengah gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan sejak Selasa (7/4/2026), namun upaya tersebut belum cukup untuk meredakan konflik yang sudah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
CENTCOM berlakukan blokade untuk semua kapal
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan blokade akan diterapkan terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai 13 April pukul 14.00 GMT. Kebijakan ini berlaku untuk kapal dari semua negara yang menuju atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Meski begitu, CENTCOM juga menegaskan bahwa kapal yang melintas di Selat Hormuz tetapi tidak berkaitan dengan pelabuhan Iran tidak akan dihalangi. Artinya, akses navigasi tetap dibuka untuk jalur non-Iran, meski ketegangan di kawasan itu tetap tinggi.
Dampak ke pasar minyak berpotensi meluas
Lonjakan harga minyak 8 persen menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap gangguan di Selat Hormuz. Jalur ini bukan sekadar titik transit biasa, melainkan pintu keluar utama ekspor energi dari Timur Tengah. Jika blokade berlangsung lebih lama, tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik global bisa semakin besar.
Bagi banyak negara, situasi seperti ini berisiko memicu kenaikan biaya impor energi, memperberat inflasi, dan menambah ketidakpastian pasar. Karena itu, perhatian dunia kini tertuju pada langkah lanjutan AS, respons Iran, serta apakah jalur perdagangan di Selat Hormuz bisa segera kembali normal. Untuk saat ini, Selat Hormuz masih menjadi pusat perhatian utama dalam peta geopolitik dan pasar minyak dunia.
Kesimpulan: blokade yang diumumkan Trump tidak hanya menghentikan arus kapal di Selat Hormuz, tetapi juga langsung mengguncang pasar energi global. Dengan harga minyak melonjak 8 persen, dampaknya berpotensi meluas jika ketegangan AS-Iran belum menemukan titik damai.
FAQ
Mengapa Selat Hormuz begitu penting bagi pasar minyak?
Karena jalur ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke pasar dunia.
Apa dampak langsung dari blokade ini?
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz terhenti dan harga minyak naik 8 persen.