Gempa Magnitudo 7,6 di Laut Bitung Dinilai Bisa Picu Tsunami, Ini Penjelasan Pakar Geologi

Baca juga

Gempa Magnitudo 7,6 di Laut Bitung Dinilai Bisa Picu Tsunami, Ini Penjelasan Pakar Geologi

Gempa Magnitudo 7,6 di Laut Bitung Dinilai Bisa Picu Tsunami, Ini Penjelasan Pakar Geologi

Gempa besar yang mengguncang wilayah laut Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4) pagi bukan hanya meninggalkan tanda tanya soal kekuatannya. Menurut pakar geologi Daryono, peristiwa ini juga perlu dicermati serius karena gempa magnitudo 7,6 tersebut berada di wilayah yang secara tektonik sangat kompleks dan berpotensi memunculkan ancaman tsunami.

BMKG mengklasifikasikan gempa itu sebagai gempa megathrust. Bagi masyarakat di Indonesia timur, istilah ini penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas lempeng bumi yang bisa memicu deformasi dasar laut. Dengan kata lain, gempa seperti ini tidak hanya soal guncangan di darat, tetapi juga kemungkinan dampaknya terhadap laut dan pesisir.

Zona Subduksi Ganda di Laut Maluku Jadi Kunci

Daryono menjelaskan, gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik di Laut Maluku merupakan konsekuensi dari kondisi tektonik yang sangat rumit. Kawasan ini berada di antara dua busur subduksi aktif, yakni Lempeng Laut Maluku yang bergerak dan tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe, sekaligus ke arah timur di bawah Busur Halmahera.

Situasi tersebut membuat kerak bumi di wilayah itu mengalami penumpukan tegangan kompresi yang sangat kuat. Dalam bahasa sederhana, lempeng-lempeng bumi saling menekan dari dua arah, sehingga energi terus menumpuk sebelum akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa.

“Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi,” kata Daryono kepada wartawan, Jumat (3/4/2026).

Mengapa Gempa Sesar Naik Bisa Berbahaya?

Menurut Daryono, mekanisme sesar naik terjadi saat gaya tekan horizontal mendorong satu blok batuan bergerak naik dibanding blok lainnya. Pada wilayah seperti Laut Maluku, sumber gempa thrust umumnya berkaitan dengan bidang kontak antarlempeng atau deformasi di dalam slab yang sedang menunjam.

Itulah sebabnya gempa di kawasan ini kerap berada pada kedalaman menengah hingga dalam, tetapi tetap menunjukkan pola sesar naik. Hasil analisis momen sensor juga disebut memperlihatkan komponen kompresional yang dominan, dengan bidang patahan yang mencerminkan geometri penunjaman lempeng.

Lebih jauh, interaksi dua sistem subduksi yang saling berhadapan, atau arc-arc collision, ikut memperkuat deformasi batuan. Dampaknya, frekuensi gempa dengan mekanisme sesar naik di wilayah itu bisa lebih tinggi dibanding area tektonik yang lebih stabil.

Potensi Tsunami dan Dampaknya bagi Indonesia Timur

Inilah bagian yang paling perlu diperhatikan. Daryono menilai gempa thrust di Laut Maluku punya signifikansi tinggi karena bisa menimbulkan perubahan vertikal pada dasar laut. Jika deformasi itu cukup besar dan terjadi di kedalaman dangkal, maka tsunami Laut Bitung bisa saja terpicu.

Meski begitu, tingkat risikonya tetap bergantung pada karakter gempa yang belum semuanya dijelaskan secara rinci dalam informasi yang tersedia. Karena itu, masyarakat di pesisir perlu mengandalkan pembaruan resmi dari BMKG dan tidak terpancing kabar yang belum dikonfirmasi.

Secara kebencanaan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kawasan Indonesia timur berada di jalur tektonik aktif yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Pemahaman terhadap pola gempa, jalur subduksi, dan potensi pergeseran dasar laut menjadi sangat penting untuk mitigasi.

Jika sistem peringatan dini dan edukasi publik berjalan baik, dampak gempa besar seperti ini bisa ditekan. Namun, tanpa kesiapsiagaan yang memadai, ancaman dari gempa magnitudo 7,6 di Laut Bitung bisa jauh lebih besar daripada guncangannya sendiri.

Kesimpulan: penjelasan pakar menunjukkan bahwa gempa di Laut Bitung tidak bisa dipandang sekadar getaran biasa. Kombinasi megathrust, sesar naik, dan zona subduksi ganda membuat wilayah ini rawan gempa kuat sekaligus berpotensi tsunami. Karena itu, kewaspadaan masyarakat dan respons cepat dari otoritas menjadi kunci utama.

FAQ

Apa penyebab gempa magnitudo 7,6 di Laut Bitung menurut pakar?

Menurut Daryono, gempa itu terkait dinamika tektonik kompleks di Laut Maluku, khususnya zona subduksi ganda dan mekanisme sesar naik.

Apakah gempa ini bisa memicu tsunami?

Pakar menyebut ada potensi tsunami jika terjadi deformasi vertikal dasar laut, terutama bila gempa berlangsung dangkal dan pergeseran patahannya besar.

Apa yang perlu dilakukan masyarakat?

Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi BMKG, tetap waspada, dan memperhatikan arahan evakuasi jika ada peringatan lanjutan.