Biaya Mahal dan Tantangan Besar Penanganan Sampah Laut, Ungkap Menteri LH

Baca juga

Biaya Mahal dan Tantangan Besar Penanganan Sampah Laut, Ungkap Menteri LH

Menteri Lingkungan Hidup Ungkap Biaya Tinggi dan Tantangan Besar dalam Penanganan Sampah Laut Indonesia

diupdate.id - Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga kebersihan lautnya. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa penanganan sampah laut bukan hanya sulit secara teknis, tapi juga menelan biaya sangat tinggi, terutama di tengah luasnya wilayah perairan dan kandungan garam yang memperumit proses pembersihan.

Kenapa Penanganan Sampah Laut Terbilang Mahal?

Menurut Hanif, sampah yang sudah tercampur di laut sulit dibuang secara efektif. Tidak bisa langsung dibakar seperti sampah biasa karena kandungan garam dapat memicu zat berbahaya seperti dioksinitrur dan furan saat dibakar. Selain itu, luasnya wilayah laut Indonesia dan banyaknya kepulauan membuat pengumpulan sampah laut menjadi pekerjaan yang kompleks dan mahal.

Secara nasional, pengolahan sampah darat baru mencapai sekitar 25 persen. Sementara itu, 60 persen sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan sisanya sebanyak 40 persen masih tersebar di daratan, yang sebagian akhirnya terbawa aliran sungai hingga ke laut.

Fokus Penanganan Sampah Dimulai dari Daratan

Menteri Hanif menegaskan bahwa untuk menekan jumlah sampah di laut, pengelolaan sampah di darat harus lebih efektif. Presiden telah menargetkan pengelolaan sampah secara menyeluruh dapat selesai pada tahun 2029, namun saat ini baru mencapai seperempatnya. Itu berarti masih ada 75 persen pekerjaan besar yang harus diselesaikan dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, prioritas utama pemerintah adalah memperbaiki sistem pengolahan sampah di darat terlebih dahulu, agar tidak terjadi kebocoran sampah ke laut.

Kolaborasi untuk Menangani Sampah Laut

Hanif juga menyadari bahwa masalah sampah di laut tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah daerah saja, seperti gubernur, bupati, atau wali kota, melainkan harus menjadi tugas bersama pemerintah pusat hingga daerah secara terintegrasi.

Contoh konkret sudah dilakukan di Bali, di mana Kementerian Lingkungan Hidup bersama TNI dan Polri secara rutin menangani sampah laut setiap September hingga Februari. Selain itu, telah dibentuk tim nasional khusus untuk penanganan sampah laut, meski skala masalah yang sangat besar memerlukan dukungan lebih serius dari berbagai pihak, termasuk para gubernur di seluruh Indonesia.

Dampak dan Analisis Ringan

Keterbatasan dalam penanganan sampah laut berpotensi berdampak buruk pada ekosistem laut serta kesehatan masyarakat yang bergantung pada laut. Biaya tinggi dan teknologi yang belum optimal membuat penanganan sampah laut belum maksimal. Oleh karena itu, mendorong pengolahan sampah di daratan bisa menjadi langkah strategis untuk mengurangi limbah yang sampai ke lautan. Sinergi lintas sektor dan daerah menjadi kunci keberhasilan mengatasi krisis sampah ini.

Kesimpulan

Penanganan sampah laut di Indonesia memang bukan hal mudah dan membutuhkan biaya tidak sedikit. Fokus utama pemerintah masih pada pengelolaan sampah darat sebagai langkah preventif. Namun, kolaborasi antara pusat dan daerah serta antar institusi akan sangat menentukan keberhasilan dalam menjaga kebersihan laut serta menurunkan dampak sampah terhadap lingkungan. Target penanganan sampah nasional pada 2029 menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk Indonesia memperbaiki lingkungan secara signifikan.

FAQ

Mengapa penanganan sampah laut di Indonesia mahal?

Penanganan sampah laut mahal karena kandungan garam dalam sampah laut menyebabkan zat berbahaya saat dibakar, dan luasnya wilayah laut serta banyaknya kepulauan mempersulit proses pembersihan.

Apa fokus utama pemerintah dalam menangani sampah laut?

Fokus utama pemerintah adalah meningkatkan pengolahan sampah di darat agar tidak banyak sampah yang terbawa ke laut melalui sungai dan muara.