Meryl Streep Bongkar Alasan Label 'Chick Flick' untuk The Devil Wears Prada Sudah Tak Relevan Lagi
Baca juga
- Penggemar Musik Wajib Tahu, Dewa Budjana Siap Gelar Konser Pranayama
- Strange Fruit Resmi Rilis EP Drips, Ini yang Perlu Diketahui
- Kenapa Luna Maya Urungkan Hiatus? Ini Alasan Keterlibatannya di Film 'Zona Merah'
- Kisah Nyata Na Willa Terungkap Lewat Pertemuan Reda Gaudiamo dan Ibu Farida
- Istri Marshel Widianto Tersentuh, Tangis di Rumah Sakit Bikin Haru

Meryl Streep Bongkar Alasan Label 'Chick Flick' untuk The Devil Wears Prada Sudah Tak Relevan Lagi
diupdate.id - Jelang hadirnya sekuel The Devil Wears Prada, Meryl Streep kembali memantik perhatian publik. Bukan hanya karena film ikonik itu akan berlanjut, tetapi juga karena komentarnya soal label chick flick yang dulu melekat pada film tersebut. Menurut Streep, sebutan itu kini sudah tak lagi cocok untuk menggambarkan film yang berpusat pada karakter perempuan.
Aktris peraih Oscar itu mengingat bahwa film pertama The Devil Wears Prada sempat dipandang sebelah mata dan hanya mendapat anggaran terbatas. Padahal, film yang juga dibintangi Anne Hathaway tersebut justru berkembang menjadi salah satu judul paling dikenang di Hollywood, terutama karena karakter Miranda Priestly yang dingin, tajam, dan sangat berpengaruh.
Label Chick Flick Dinilai Sudah Ketinggalan Zaman
Dalam wawancara terbaru, Streep menegaskan bahwa label chick flick tidak lagi relevan di industri film saat ini. Ia menilai, banyak film bertema perempuan yang terbukti mampu menarik penonton luas, bukan hanya kelompok tertentu. Menurutnya, kesuksesan film seperti Barbie dan Mamma Mia! menjadi bukti bahwa kisah dengan fokus perempuan bisa diterima pasar secara besar-besaran.
“Label itu sudah tidak cocok lagi, setelah banyak film yang mengejutkan studio karena terbukti diminati penonton meskipun berpusat pada karakter perempuan,” ujar Streep seperti dikutip dari Variety, Ahad (5/4/2026).
Pernyataan ini memberi gambaran bahwa cara pandang studio terhadap film perempuan telah berubah. Dulu, film seperti ini kerap ditempatkan di kategori sempit dan dianggap hanya menyasar audiens perempuan. Kini, situasinya mulai bergeser karena penonton semakin terbuka pada cerita yang kuat, relevan, dan emosional, terlepas dari gender tokohnya.
Sequel Baru Dapat Dukungan Finansial Penuh
Streep juga membandingkan perlakuan studio terhadap film pertama dan sekuelnya. Jika dulu produksi The Devil Wears Prada disebut mendapat anggaran terbatas, kini keadaan tampak berbeda. Untuk The Devil Wears Prada 2, ia menyebut studio benar-benar mengucurkan dana besar.
“Yang ini, mereka benar-benar mengeluarkan uang,” kata Streep.
Film sekuel tersebut dijadwalkan tayang pada 1 Mei mendatang dan akan kembali mempertemukan Miranda Priestly dengan Andy. Ceritanya disebut menyoroti krisis industri jurnalisme cetak yang masih relevan dengan perubahan media saat ini. Kehadiran tema ini membuat sekuelnya terasa lebih dekat dengan realitas, tidak hanya mengandalkan nostalgia.
Inspirasi di Balik Miranda Priestly
Selain membahas perubahan industri film, Streep juga mengungkap sumber inspirasinya saat membangun karakter Miranda Priestly. Meski banyak yang mengaitkan tokoh itu dengan Anna Wintour, Streep justru menyebut dua nama lain, yakni Mike Nichols dan Clint Eastwood.
Menurutnya, gaya kepemimpinan Mike Nichols yang penuh humor halus dan ketenangan Clint Eastwood di lokasi syuting memberi pengaruh besar pada pembentukan karakter Miranda. Ia menggambarkan, jika keduanya memiliki anak, maka sosok itulah Miranda Priestly.
Penjelasan ini menarik karena memperlihatkan bahwa karakter Miranda tidak lahir dari satu sosok tunggal, melainkan dari gabungan energi kepemimpinan yang kuat, tenang, dan berwibawa. Hal itu ikut membuat Miranda menjadi karakter yang tetap hidup di ingatan penonton hingga kini.
Dampak dan Relevansi untuk Industri Film
Ucapan Streep membuka kembali diskusi soal bagaimana film bertema perempuan masih sering diberi label yang menyempitkan. Di sisi lain, kesuksesan film-film populer menunjukkan bahwa penonton tidak lagi mudah dikotakkan. Bagi industri, hal ini menjadi sinyal bahwa investasi pada cerita perempuan bukan sekadar pilihan niche, melainkan peluang pasar yang nyata.
Bagi publik, pernyataan ini juga memperkuat alasan mengapa The Devil Wears Prada tetap relevan setelah bertahun-tahun. Film tersebut bukan cuma soal mode, tetapi juga soal ambisi, relasi kerja, dan perubahan dunia media—tema-tema yang masih dekat dengan kehidupan sekarang.
Kesimpulan
Menjelang perilisan sekuelnya, The Devil Wears Prada kembali menjadi bahan perbincangan, kali ini lewat komentar tajam Meryl Streep soal label chick flick yang dianggap sudah usang. Dengan dukungan studio yang lebih besar dan cerita yang lebih relevan, film ini tampaknya siap menarik perhatian generasi lama maupun penonton baru. Satu hal yang jelas: kisah perempuan di layar lebar kini tak lagi bisa diremehkan.
FAQ
Apa yang dimaksud Meryl Streep dengan label chick flick?
Streep menilai label itu terlalu membatasi film yang berpusat pada karakter perempuan, padahal film semacam itu juga bisa diminati penonton luas.
Kapan The Devil Wears Prada 2 tayang?
Sekuel The Devil Wears Prada dijadwalkan tayang pada 1 Mei mendatang.
Siapa yang menginspirasi karakter Miranda Priestly menurut Meryl Streep?
Streep menyebut Mike Nichols dan Clint Eastwood sebagai inspirasi utama untuk membentuk karakter Miranda Priestly.