Mikroalga Disebut Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan, Ini Alasan UGM Menilainya Sangat Menjanjikan

Baca juga

Mikroalga Disebut Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan, Ini Alasan UGM Menilainya Sangat Menjanjikan

Mikroalga Disebut Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan, Ini Alasan UGM Menilainya Sangat Menjanjikan

Di tengah kekhawatiran soal krisis energi fosil dan perubahan iklim, ada satu organisme kecil yang diam-diam mencuri perhatian para peneliti: mikroalga. Ukurannya mikroskopis, tetapi potensinya besar sekali. Menurut Guru Besar Bidang Bioteknologi Industri dan Lingkungan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Eko Agus Suyono, mikroalga bisa menjadi salah satu jawaban untuk kebutuhan energi dan industri di masa depan.

Dalam pandangannya, mikroalga bukan sekadar organisme air biasa. Makhluk hidup ini punya kemampuan unik yang membuatnya layak dikembangkan sebagai bio-factory atau pabrik hayati. Artinya, mikroalga dapat menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari pangan, pakan, obat-obatan, hingga energi alternatif. Potensi inilah yang membuat mikroalga semakin dilirik dalam riset energi bersih.

Mikroalga Punya Karakter yang Sulit Ditandingi

Prof Eko menjelaskan bahwa keunggulan mikroalga terletak pada sifat biologisnya yang sangat fleksibel. Dalam satu sel, mikroalga bisa menunjukkan karakter seperti tumbuhan karena mampu fotosintesis, menyerupai bakteri karena bisa fermentasi, dan bahkan memiliki sifat bergerak seperti hewan.

Gabungan karakter itu membuat mikroalga menjadi organisme yang sangat menarik untuk dikembangkan. Tidak heran jika banyak peneliti menilai mikroalga sebagai bahan baku serbaguna yang bisa masuk ke berbagai sektor industri. Jika riset dan pengembangannya terus diperkuat, organisme ini bisa membuka jalan bagi teknologi produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Alternatif untuk Biodiesel hingga Hidrogen

Salah satu potensi paling menonjol dari mikroalga adalah sebagai bahan bakar alternatif. Prof Eko menyebut mikroalga dapat digunakan untuk biodiesel, bioetanol, biojet, hingga biohidrogen. Bahkan, hidrogen dipandang sebagai salah satu energi masa depan yang berpeluang makin penting dalam transisi energi global.

Selama ini Indonesia masih banyak bergantung pada biodiesel berbasis kelapa sawit. Karena itu, kehadiran mikroalga sebagai sumber energi baru bisa menjadi opsi tambahan yang strategis. Bukan untuk langsung menggantikan semua sumber energi yang ada, tetapi sebagai langkah diversifikasi yang lebih aman dan berkelanjutan.

Dalam konteks ini, bahan bakar masa depan dari mikroalga menjadi menarik bukan hanya karena ramah lingkungan, tetapi juga karena fleksibel untuk dikembangkan ke berbagai produk turunan. Konsep ini sejalan dengan pendekatan biorefinery, yakni memanfaatkan satu sumber hayati untuk banyak kebutuhan sekaligus.

Indonesia Punya Potensi Besar, tapi Riset Masih Terbatas

Prof Eko menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya termasuk hotspot keanekaragaman hayati mikroalga di dunia. Dengan wilayah perairan yang sangat luas, Indonesia diyakini menyimpan banyak spesies mikroalga yang berpotensi tinggi.

Namun, masalahnya ada pada eksplorasi yang belum maksimal. Dalam basis data genom internasional, kontribusi riset mikroalga dari Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan Amerika, Eropa, dan bahkan Afrika. Padahal, hasil penelitian yang dilakukan bersama peneliti Jepang menunjukkan bahwa mikroalga asal Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah, bahkan dalam beberapa aspek lebih unggul.

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi dunia riset nasional. Jika eksplorasi dan pemetaan mikroalga diperluas, Indonesia bukan hanya bisa menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen inovasi di bidang energi hayati.

Berperan dalam Serapan CO2 dan Oksigen Dunia

Selain sebagai sumber energi, mikroalga juga punya peran besar bagi lingkungan. Dalam penelitian Prof Eko yang berjudul Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Integrasi Teknologi CO₂ Capture dan Konsep Biorefinery untuk Kemandirian Bangsa, mikroalga disebut sangat efektif menyerap karbon dioksida atau CO₂. Kemampuannya bahkan dinilai lebih efisien dibandingkan tanaman darat.

Lebih jauh lagi, mikroalga menyumbang sekitar 40–50 persen produksi oksigen di atmosfer bumi. Angka ini menunjukkan bahwa perairan punya peran yang sangat penting sebagai penopang kehidupan. Dengan kata lain, keberadaan mikroalga tidak hanya relevan untuk energi, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan ekosistem global.

Dari sisi dampak, pengembangan mikroalga bisa memberi dua manfaat sekaligus: membantu mengurangi emisi karbon dan menyediakan bahan baku energi terbarukan. Jika risetnya terus digenjot, Indonesia berpeluang besar masuk ke peta pengembangan energi hijau berbasis hayati.

Pada akhirnya, mikroalga menawarkan gambaran menarik tentang masa depan energi yang lebih bersih, fleksibel, dan berkelanjutan. Tantangannya kini ada pada seberapa serius riset, eksplorasi, dan hilirisasi dijalankan. Jika peluang ini dimanfaatkan dengan baik, organisme kecil ini bisa memberi dampak besar bagi kemandirian energi Indonesia.

FAQ

Apa itu mikroalga?

Mikroalga adalah organisme mikroskopis yang hidup di perairan dan punya kemampuan fotosintesis seperti tumbuhan.

Mengapa mikroalga dianggap potensial sebagai bahan bakar masa depan?

Karena mikroalga bisa diolah menjadi biodiesel, bioetanol, biojet, hingga biohidrogen serta dinilai ramah lingkungan.

Apa tantangan utama pengembangan mikroalga di Indonesia?

Tantangan utamanya adalah eksplorasi dan riset mikroalga yang masih belum maksimal dibandingkan negara lain.