Perjalanan Haji Penuh Makna: Wasiat Anak yang Mengantar Ibu ke Tanah Suci
Baca juga
- KPK Periksa Khalid Basalamah Terkait Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji 2023-2024
- Polisi Berhasil Tangkap Tiga Pelaku Penjambretan Warga Jerman di Jakarta Pusat
- KPK Dorong Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum Parpol demi Cegah Korupsi
- Relawan Jokowi Justru Bangga Disebut 'Termul', Ini Alasannya
- Imigrasi Perketat Pengawasan di Bandara untuk Cegah Haji Ilegal, Jamaah Terlayani Optimal

Perjalanan Haji Penuh Makna: Wasiat Anak yang Mengantar Ibu ke Tanah Suci
diupdate.id - Bayangkan menunggu puluhan tahun suatu impian menjadi kenyataan, dan di saat yang sama mengusung kenangan seorang anak yang sudah tiada. Inilah cerita mengharukan dari Halika Palecceng, seorang jamaah haji berusia 83 tahun asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, yang akhirnya dapat menginjakkan kaki ke Tanah Suci setelah mendapat wasiat dari anaknya yang telah lebih dulu meninggal dunia.
Wasiat Sang Anak, Cita-Cita yang Terwujud
Diusianya yang sudah senja, Halika tak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan rasa syukurnya. Sejak umur 35 tahun, ia telah memendam keinginan kuat untuk menunaikan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam yang utama. Namun, keterbatasan ekonomi menjadi penghalang besar. "Anak saya sudah menabung untuk ini, dan juga ada tambahan dari hasil kebun cengkeh milik suami saya," ungkap Halika saat ditemui di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4).
Sayang, sang anak yang merupakan penyokong utama biaya keberangkatan tak sempat melihat ibunya tiba di Tanah Suci. Setelah meninggal, wasiatnya untuk memberangkatkan ibunya tetap diteruskan oleh istri almarhum. Halika pun berangkat sendiri tanpa pendamping keluarga, membawa segenap doa dan kenangan mendalam.
Keberangkatan Kloter Pertama Embarkasi Makassar
Halika berangkat bersama 386 jamaah lainnya dari Kabupaten Soppeng dan satu jamaah dari Makassar dalam kloter pertama Embarkasi Makassar tahun 2026. Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, Ikbal Ismail, menjelaskan bahwa keberangkatan berlangsung dini hari dengan langkah baru. Tahun ini, para jamaah menerima kartu nusuk (identitas jamaah haji) di asrama haji, berbeda dari tahun sebelumnya yang dibagikan saat tiba di Mekkah. Selain itu, pemeriksaan paspor Saudi kini dilakukan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, bukan lagi di Jeddah atau Madinah.
Dampak dan Makna dari Cerita Ini
Kisah Halika bukan sekadar perjalanan spiritual. Ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga dan nilai wasiat dalam mewujudkan impian. Perjuangan anaknya yang menabung dan wasiat yang diteruskan oleh menantunya menegaskan pentingnya saling mendukung di dalam keluarga. Di sisi lain, keberangkatan kloter dengan prosedur baru menjadikan perjalanan haji tahun ini lebih efisien dan praktis bagi para jamaah Indonesia.
Ringkasan
Perjalanan haji Halika menjadi bukti bahwa impian yang tertunda bukan berarti batal, terutama ketika didukung oleh kasih sayang keluarga dan niat baik. Semangatnya menunaikan rukun Islam kelima ini sekaligus mengingatkan kita pada nilai kesabaran, doa, dan pengorbanan. Ditambah dengan kemudahan dari regulasi keberangkatan haji tahun 2026, semoga semakin banyak jamaah di Indonesia yang bisa segera mewujudkan impian mereka menunaikan ibadah haji.
FAQ
Siapa Halika Palecceng?
Halika Palecceng adalah jamaah haji asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, yang berangkat haji di usia 83 tahun setelah menerima wasiat dari anaknya yang telah meninggal.
Apa keunikan keberangkatan haji kloter pertama Embarkasi Makassar 2026?
Tahun ini jamaah menerima kartu nusuk di asrama haji sebelum keberangkatan, dan pemeriksaan paspor Saudi dilakukan di Bandara Sultan Hasanuddin, bukan di Jeddah atau Madinah seperti sebelumnya.