Perkuat Budaya Literasi, Perpusnas Dorong Relima Menjangkau 200 Kabupaten/Kota

Baca juga

Perkuat Budaya Literasi, Perpusnas Dorong Relima Menjangkau 200 Kabupaten/Kota

Perkuat Budaya Literasi, Perpusnas Dorong Relima Menjangkau 200 Kabupaten/Kota

diupdate.id - Di tengah derasnya arus informasi, literasi bukan lagi sekadar soal bisa membaca buku. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI kini mendorong pendekatan yang lebih dekat ke masyarakat lewat program Relawan Literasi Masyarakat atau Relima. Program ini dirancang untuk membawa budaya literasi lebih hidup, terutama di tengah masyarakat yang heterogen dan memiliki kebutuhan yang beragam.

Langkah ini menunjukkan bahwa perpustakaan tidak lagi dipahami sebagai tempat menyimpan koleksi bacaan semata. Dalam pandangan Perpusnas, perpustakaan bisa menjadi pusat aktivitas, kreativitas, dan pemberdayaan warga. Dengan model seperti ini, akses pengetahuan diharapkan tidak berhenti di rak buku, tetapi benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.

360 Relawan, 200 Wilayah, dan Target Dampak yang Lebih Luas

Kepala Perpusnas RI, E Aminudin Aziz, menegaskan bahwa literasi adalah fondasi penting untuk membangun martabat bangsa. Karena itu, ia menilai program Relima perlu dilihat dari hasil yang diberikan, bukan hanya dari besar kecilnya anggaran.

Menariknya, meski anggaran mengalami penurunan, jumlah relawan justru ditingkatkan secara signifikan. Pada 2026, Relima mencatat 360 relawan yang tersebar di sekitar 200 kabupaten/kota di Indonesia. Menurut Aminudin, pilihan ini adalah strategi berbasis dampak, karena relawan dapat bergerak langsung ke masyarakat dan mendorong kebiasaan membaca dari bawah.

Perpusnas menilai pendekatan ini penting karena tantangan literasi di Indonesia tidak cukup dijawab dengan program formal saja. Dibutuhkan penggerak di lapangan yang bisa menyesuaikan pendekatan dengan kondisi daerah masing-masing. Di sinilah peran Relima menjadi relevan, sebab relawan dapat menjembatani perpustakaan dengan komunitas lokal.

Literasi Tak Hanya Soal Membaca

Aminudin juga menekankan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi mencakup kemampuan berpikir kritis, menilai informasi, hingga menciptakan inovasi dalam kehidupan bermasyarakat. Artinya, literasi Indonesia yang kuat akan berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia.

Dalam konteks saat ini, penguatan budaya literasi menjadi semakin penting karena masyarakat dihadapkan pada banjir informasi. Tanpa kemampuan memilah dan memahami informasi, publik akan lebih mudah terjebak pada konten yang menyesatkan. Karena itu, program seperti Perpusnas dan Relima dapat menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih cerdas dan tangguh.

Dengan perluasan Relima, Perpusnas berharap budaya literasi tidak hanya bertahan di kota besar, tetapi juga tumbuh di berbagai daerah. Jika gerakan ini konsisten, perpustakaan berpeluang menjadi ruang yang lebih aktif dan bermanfaat bagi banyak lapisan masyarakat.

Singkatnya, penguatan budaya literasi lewat Relima bukan sekadar program pendukung, melainkan upaya jangka panjang untuk membangun masyarakat yang lebih kritis, kreatif, dan berdaya.

FAQ

Apa itu Relima?

Relima adalah singkatan dari Relawan Literasi Masyarakat, program Perpusnas untuk mendekatkan budaya literasi ke masyarakat.

Berapa jumlah relawan Relima pada 2026?

Pada 2026, Relima mencatat 360 relawan yang tersebar di sekitar 200 kabupaten/kota di Indonesia.