Dampak Buruk Smacking Anak: Studi UCL Ungkap Turunnya Nilai Akademik dan Risiko Tinggi
Baca juga
- Angela Rayner Kecam Perubahan Visa untuk Pekerja Perawatan di Inggris
- David Sullivan West Ham dan Tuduhan Seksual: Fakta dan Dampaknya
- Kekacauan dan Serangan Rasial di Glasgow Usai Insiden Pisau di Belfast: 3 Orang Ditangkap
- Konflik Iran: Harapan Trump dan Netanyahu Membawa Timur Tengah ke Ambang Krisis Berkepanjangan
- Penutupan Mini-Market Ilegal di Inggris Diperpanjang Jadi 12 Bulan, Ini Alasannya
Smacking Anak Bisa Turunkan Nilai Sekolah dan Dorong Perilaku Berisiko, Studi UCL Ungkap Fakta Mengejutkan
diupdate.id - Hukuman fisik seperti memukul anak ternyata tak hanya berdampak buruk secara emosional, tapi juga bisa menurunkan prestasi akademik mereka. Temuan dari studi besar University College London (UCL) memberi peringatan keras bahwa memukul anak tidak memberikan manfaat sama sekali dan malah memicu masalah jangka panjang.
Hasil Studi UCL: Bukti Nyata Dampak Negatif Smacking
Penelitian di UCL mengamati sekitar 19.000 anak yang lahir di Inggris antara 2000 sampai 2002. Para peneliti memeriksa pola hukuman fisik pada usia tiga, lima, dan tujuh tahun, lalu menghubungkannya dengan prestasi akademik dan perilaku anak saat remaja. Terungkap bahwa anak-anak yang mengalami smacking memiliki kemungkinan lebih tinggi gagal meraih lima nilai lulus standar (A*-C) pada ujian GCSE, terutama di pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, dengan peningkatan risiko sebesar 5,7 persen.
Tak hanya itu, remaja berusia 14 tahun yang pernah dipukul waktu kecil juga 33% lebih berisiko melakukan perilaku berbahaya, seperti menjadi pelaku bullying. Ketua penelitian, Associate Prof Anja Heilmann, menegaskan bahwa semua temuan menunjukkan smacking “tidak ada manfaatnya dan cenderung memberikan hasil yang merugikan.”
Perdebatan tentang Legalitas dan Perlindungan Anak
Meski Skotlandia dan Wales sudah melarang hukuman fisik pada anak sejak 2020 dan 2022, Inggris dan Irlandia Utara masih memperbolehkannya secara hukum. Pemerintah Inggris mengaku belum ada rencana untuk merubah aturan tersebut, meskipun menegaskan bahwa keselamatan dan kesejahteraan anak tetap menjadi prioritas. Sementara itu, berbagai pihak mendukung larangan demi memberikan perlindungan yang setara bagi anak-anak dari kekerasan fisik, ada pula yang khawatir aturan seperti itu dapat memcriminalisasi orang tua.
Mengapa Harus Berhenti Smacking? Penjelasan Lengkap
Smacking dianggap sebagai metode disiplin tradisional, namun riset ini menyoroti bahwa cara ini justru kontraproduktif. Kekerasan fisik dalam mendidik anak tidak mengajarkan aturan yang baik, malah cenderung memperbesar risiko anak tumbuh dengan masalah perilaku dan prestasi akademik yang menurun. Anak-anak justru butuh kasih sayang, hubungan yang responsif, dan lingkungan bermain yang positif agar bisa berkembang dengan optimal.
Analisa Dampak Jangka Panjang
Efek negatif smacking tidak hanya sesaat. Anak yang sering dipukul dapat mengalami stres, rendah diri, dan lebih cenderung mereplikasi kekerasan dalam interaksi sosialnya nanti. Penurunan nilai akademik ini pun bisa berdampak pada masa depan pendidikan dan karir mereka. Oleh sebab itu, perlindungan anak dari kekerasan fisik menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian serius baik dari keluarga maupun pemerintah.
Ringkasan: Saatnya Melindungi Anak dari Kekerasan Fisik
Studi dari UCL ini menjadi pengingat kuat bahwa smacking anak memberi dampak buruk baik dalam pembelajaran maupun perilaku remaja. Edukasi tentang disiplin yang positif dan kasih sayang harus jadi prioritas. Meski belum ada perubahan hukum di seluruh Inggris, kesadaran kolektif dan dukungan terhadap larangan hukuman fisik bisa menjadi langkah maju untuk melindungi generasi muda agar tumbuh lebih sehat dan berprestasi.
FAQ
Apakah smacking benar-benar memengaruhi nilai akademik anak?
Ya, studi UCL menemukan anak yang mengalami smacking memiliki kemungkinan lebih tinggi gagal meraih nilai lulus standar di ujian GCSE.
Apakah semua wilayah UK melarang hukuman fisik pada anak?
Belum, Skotlandia dan Wales sudah melarang, tapi hukum di Inggris dan Irlandia Utara masih mengizinkan hukuman fisik pada anak.