Terungkap, Peran Prancis dan India di Balik Geger Sepehi 1812 yang Mengguncang Yogyakarta
Baca juga
- Mengungkap Kehebatan Turki Usmani sebagai Gunpowder Empire yang Mengubah Sejarah Dunia
- Nikmati Lezatnya Pondok Pindang D'Alir, Surganya Pindang Khas Ogan Ilir
- Mengungkap Nasib Ecowisata Burai yang Pernah Viral Kini Kian Terlupakan
- Tips Menjaga Kesehatan Mental dengan Kebiasaan Sederhana yang Konsisten
- Iran Masih Punya Jurus Berbahaya: Jet Tempur AS Disebut Masih Bisa Dijatuhkan

Terungkap, Peran Prancis dan India di Balik Geger Sepehi 1812 yang Mengguncang Yogyakarta
Geger Sepehi 1812 selama ini dikenal sebagai salah satu momen paling kelam dalam sejarah Yogyakarta. Namun, di balik penyerbuan Keraton Yogyakarta oleh pasukan Inggris, ternyata ada rangkaian kepentingan politik yang jauh lebih luas. Sejarawan menilai peristiwa ini bukan sekadar konflik lokal, melainkan bagian dari perebutan pengaruh global yang turut melibatkan Prancis dan serdadu dari India.
Peristiwa yang terjadi pada 20 Juni 1812 itu meninggalkan luka mendalam bagi Kesultanan Yogyakarta. Serangan tersebut tidak hanya mengubah peta kekuasaan di dalam keraton, tetapi juga memperlihatkan bagaimana politik kolonial bekerja dengan sangat kompleks pada awal abad ke-19.
Akar Konflik Berasal dari Eropa, Bukan Hanya di Jawa
Menurut penjelasan para sejarawan, akar masalah Geger Sepehi 1812 bermula dari situasi Eropa saat Napoleon Bonaparte berkuasa. Ketika Belanda berada di bawah kendali Prancis, wilayah jajahannya termasuk Jawa ikut terdampak. Pada masa itu, Herman Willem Daendels memimpin pemerintahan di Jawa dengan gaya yang kental nuansa militeristik dan pengaruh Prancis.
Kebijakan itu memicu ketegangan dengan Sultan Hamengkubuwono II atau Sultan Sepuh. Sang sultan disebut menolak aturan baru yang dianggap merendahkan martabat keraton. Dari titik inilah konflik politik mulai membesar, hingga akhirnya menjadi alasan bagi Inggris untuk bertindak saat Thomas Stamford Raffles mengambil alih pengaruh di Jawa.
Pasukan Sepoy dan Strategi Inggris
Nama “Geger Sepehi” sendiri berasal dari kata Sepoy, yaitu tentara bayaran asal India yang dibawa Inggris lewat East India Company. Ribuan serdadu ini dikerahkan bersama pasukan kavaleri Inggris untuk mengepung dan membombardir tembok Baluwerti Keraton Yogyakarta.
Penggunaan tentara India dinilai sebagai strategi militer yang cerdas dari pihak Inggris. Dengan melibatkan pasukan dari Asia Selatan, mereka bisa meminimalkan korban di pihak serdadu kulit putih sekaligus menunjukkan luasnya jaringan kekuasaan kolonial mereka. Inilah salah satu alasan mengapa Geger Sepehi 1812 penting dibaca bukan hanya sebagai peristiwa lokal, tetapi juga sebagai bagian dari sistem imperial yang lebih besar.
Bukti Baru dan Pembacaan Sejarah yang Lebih Utuh
Sejumlah kajian terbaru yang disusun oleh sejarawan Harto Juwono dari Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS bersama Prof. Djoko Marihandono memperkuat pandangan bahwa kebijakan kolonial terhadap Sultan HB II tidak memiliki dasar hukum yang sah. Menurut mereka, tindakan itu lebih merupakan langkah politik sepihak yang lahir dari perebutan kuasa antar-kekuatan kolonial.
Prof. Djoko menyoroti bahwa Daendels membawa semangat Revolusi Prancis ke Jawa, tetapi menerapkannya secara keras melalui pendekatan militer. Perubahan dalam tata protokol diplomatik juga ikut memicu konflik, terutama ketika Gubernur Jenderal menuntut posisi setara dengan raja-raja Jawa. Bagi Sultan HB II, hal itu menjadi penghinaan terhadap wibawa keraton.
Sementara itu, Dr. Harto menekankan bahwa Sultan HB II tampil sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan asing, baik Prancis-Belanda maupun Inggris. Dari sudut pandang ini, Geger Sepehi 1812 bukan hanya kekalahan militer, melainkan juga tragedi budaya dan politik yang dirancang untuk melemahkan legitimasi Keraton Yogyakarta.
Dampak bagi Yogyakarta dan Memori Sejarah
Peristiwa ini meninggalkan dampak panjang bagi sejarah Yogyakarta. Keraton tidak hanya mengalami penyerbuan fisik, tetapi juga tekanan terhadap otoritas politik dan simbol kebudayaannya. Dalam konteks yang lebih luas, Geger Sepehi 1812 menunjukkan bahwa kekuasaan kolonial sering kali bekerja lewat kombinasi kekuatan senjata, diplomasi, dan manipulasi politik.
Karena itu, pembacaan ulang atas Geger Sepehi 1812 penting untuk memahami posisi Yogyakarta dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini menegaskan bahwa pertarungan di tanah Jawa pada awal abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dari dinamika Eropa, India, dan jaringan kolonial internasional.
Pada akhirnya, Geger Sepehi 1812 bukan sekadar catatan perang. Ini adalah pengingat bahwa sejarah Yogyakarta dibentuk oleh benturan kekuasaan besar yang dampaknya masih terasa dalam ingatan kolektif hingga kini.
FAQ
Apa itu Geger Sepehi 1812?
Geger Sepehi 1812 adalah penyerbuan Keraton Yogyakarta oleh pasukan Inggris pada 20 Juni 1812 yang menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Yogyakarta.
Mengapa peristiwa ini melibatkan Prancis dan India?
Karena latar belakang konflik berawal dari pengaruh Prancis atas Belanda di Eropa, sementara Inggris memakai tentara bayaran asal India atau Sepoy dalam penyerangan.
Apa dampak Geger Sepehi 1812 bagi Keraton Yogyakarta?
Peristiwa ini melemahkan otoritas politik dan simbol budaya Keraton Yogyakarta serta meninggalkan luka sejarah yang panjang.