Pasien Medan Protes Rahim Diangkat Tanpa Izin, Rumah Sakit Buka Suara
Baca juga
- After Decades, UU PPRT Resmi Berlaku, Tunggu Aturan Turunan
- Dua Kabupaten di Sumsel Resmi Berstatus Siaga Karhutla Menjelang Musim Kemarau 2026
- PBB Adukan Kementerian Hukum ke Ombudsman, Tuding Terjadi Maladministrasi Pengesahan Kepengurusan
- Puluhan Jemaah Haji Jatim Alami Hipertensi, Simak Penanganannya
- Sindikat Phishing Internasional Dibongkar Polisi dan FBI, 34.000 Korban Terungkap

Viral Pasien di Medan Klaim Operasi Angkat Rahim Tanpa Persetujuan, RSU Muhammadiyah: Semua Sesuai Prosedur
diupdate.id - Kasus dugaan malapraktik di sebuah rumah sakit di Medan kembali mencuri perhatian publik. Seorang pasien mengklaim rahimnya diangkat tanpa sepengetahuan maupun persetujuan, sementara pihak rumah sakit menegaskan semua tindakan sudah sesuai prosedur. Apa sebenarnya yang terjadi?
Awal Kisah Mimi Maisyarah dan Prosedur Operasi
Mimi Maisyarah, pasien berusia 48 tahun yang tinggal di Jalan Tangguk Bongkar, Medan, merasa menjadi korban malapraktik di RSU Muhammadiyah Medan. Awalnya, Mimi menjalani pemeriksaan pada Januari 2026 setelah mengalami keluhan yang mengarah pada adanya miom, yakni tumor jinak di dinding rahim yang kerap memicu nyeri dan gangguan. Dokter mendiagnosisnya memerlukan operasi, namun Mimi dan keluarga awalnya menolak dan memilih berdiskusi lebih lanjut.
Setelah kondisinya memburuk, Mimi akhirnya menjalani operasi pada 24 Februari 2026 di rumah sakit tersebut. Namun, ia dan keluarga merasa tidak pernah memberi persetujuan untuk tindakan pengangkatan rahim yang kemudian diketahui telah dilakukan. Dua hari pascaoperasi, Mimi kembali ke rumah sakit karena luka operasi mengeluarkan nanah dan jahitan terbuka.
Persetujuan Medis Jadi Sorotan Utama
Kuasa hukum Mimi, Ojahan Sinurat, menyebut bahwa keluarga pasien menerima organ tubuh berupa rahim dan ovarium yang diangkat. Namun, saat meminta hasil Patologi Anatomi (PA) di RSU Haji Medan, hasil tidak menunjukkan indikasi miom sebagai alasan operasi. Sebaliknya, hasil USG mengonfirmasi rahim sudah diangkat, yang menjadi dasar tudingan operasi tanpa izin.
Di sisi lain, Kepala Bagian Umum dan SDM RSU Muhammadiyah Medan, Ibrahim Nainggolan membantah keras tuduhan malapraktik. Menurutnya, Mimi sudah diinformasikan tentang risiko dan kemungkinan pengangkatan rahim sejak awal konsultasi, dan persetujuan resmi baru diberikan oleh keluarga setelah pertimbangan matang. "Operasi bukan dilakukan tiba-tiba, melainkan setelah proses evaluasi dan persetujuan dari pasien dan keluarga," ujarnya.
Bagaimana Dampak dan Implikasinya?
Kasus ini memunculkan perdebatan penting tentang hak pasien dalam mendapat informasi dan membuat keputusan terkait prosedur medis. Pengangkatan rahim adalah tindakan besar dengan dampak fisik dan psikologis signifikan, sehingga persetujuan pasien menjadi hal vital. Di era digital dan transparansi informasi, rumah sakit dan tenaga medis terus diharapkan meningkatkan komunikasi dan dokumentasi persetujuan secara jelas.
Di sisi lain, tudingan malapraktik dapat merusak reputasi rumah sakit dan menimbulkan kekhawatiran bagi calon pasien lain. Oleh karena itu, proses penyelidikan yang transparan dan objektif sangat penting untuk mengungkap fakta sebenarnya serta memberikan kepastian hukum bagi semua pihak.
Ringkasan
Kasus Mimi Maisyarah menyoroti pentingnya komunikasi efektif dan persetujuan medis dalam tindakan operatif yang berisiko, seperti pengangkatan rahim. Meski klaim pasien menjadi perhatian, rumah sakit RSU Muhammadiyah Medan menegaskan semua prosedur telah berjalan dengan benar. Hingga saat ini, kasus masih dalam proses peninjauan lebih lanjut dan menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
FAQ
Apa itu miom dan bagaimana pengaruhnya pada rahim?
Miom adalah tumor jinak yang tumbuh di dinding rahim yang dapat menyebabkan nyeri dan gangguan jika ukurannya besar atau tumbuh di lokasi tertentu.
Mengapa penting mendapatkan persetujuan pasien sebelum operasi rahim?
Persetujuan pasien diperlukan untuk memastikan pasien memahami risiko dan manfaat tindakan medis, terutama yang berdampak besar seperti pengangkatan rahim, agar keputusan dilakukan secara sadar dan sukarela.
angkat rahim tanpa persetujuan menjadi sorotan utama pada pembahasan ini.