Cosmeticorexia: Ketika Skincare untuk Anak Perempuan Menjadi Tren yang Mengkhawatirkan
Baca juga
- Vaksin Pertama yang Dirancang dengan AI Siap Melindungi dari Berbagai Virus Sekaligus
- Terungkap! Budaya Offensif di Unit Maternitas Nottingham yang Bikin Geger
- Tes DNA Baru Buka Peluang Ribuan Pasien Kanker Payudara Hindari Kemoterapi
- Terungkap! Pengguna Whip Pink Alami Kelumpuhan Temporer, Ini Dampak Bahayanya bagi Kesehatan
- Screening Kanker Prostat Fokus pada Pria dengan Gen BRCA2, Kenali Alasannya
Cosmeticorexia: Ketika Skincare untuk Anak Perempuan Menjadi Tren yang Mengkhawatirkan
diupdate.id - Di era digital sekarang, tren perawatan kulit bukan cuma milik orang dewasa. Anak-anak perempuan kini semakin terjun ke dunia skincare, bahkan sejak usia sangat muda. Tapi, apakah kebiasaan ini sekadar hobi atau sudah menjadi masalah yang berisiko? Yuk, kita ulas fenomena cosmeticorexia ini lebih dalam.
Skincare Bukan Lagi Sekadar Rutinitas Dewasa
Contohnya Ellie-May, gadis Inggris yang mulai membagikan rutinitas skincare-nya di TikTok sejak masih berumur delapan tahun. Kini berusia 13 tahun, dia sudah memiliki lebih dari 330.000 pengikut dan membantu keluarganya meraup penghasilan lebih dari £50.000 per tahun lewat konten kecantikannya. Video-video berisi tutorial multi-langkah merawat kulit, pemakaian toner, serum, hingga make-up ringan jadi tontonan banyak anak lain yang terpikat mengikuti tren ini.
Tren ini tidak hanya terjadi di luar negeri. Jika mencari kata kunci "anak dan skincare" di media sosial, kita akan dengan mudah menemukan banyak bocah perempuan berusia muda yang antusias melakukan perawatan kulit. Mereka menggunakan produk kecantikan yang tidak hanya sederhana, tapi juga mengandung bahan-bahan canggih termasuk anti-penuaan.
Pasar Skincare Anak yang Kian Membesar
Berdasarkan studi oleh Pai, sebuah merek skincare, sekitar 50% anak usia 9-12 tahun menggunakan beberapa produk skincare setiap minggu, dan hampir setengahnya melakukan itu untuk mengatasi masalah kulit yang mereka lihat sendiri. Ini menandakan pasar produk kecantikan anak-anak sudah berkembang pesat, menjadi industri bernilai miliaran poundsterling di dunia, dan belum menunjukkan tanda melambat.
Walau begitu, ada kekhawatiran dari para ahli dan regulator. Produk dengan bahan anti-penuaan yang seharusnya ditujukan untuk orang dewasa digunakan oleh anak-anak secara terus menerus bisa membawa dampak negatif jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami. Brand-brand seperti Drunk Elephant menyatakan mereka tidak menargetkan anak-anak dan terus mengedukasi penggunaan produk yang benar.
Dampak dan Analisa: Ketika Perawatan Kulit Menjadi Obsesi Sejak Dini
Fenomena cosmeticorexia merujuk pada obsesi berlebihan terhadap perawatan kulit yang justru bisa menimbulkan stres dan gangguan psikologis. Media sosial punya peran besar, karena terus mempromosikan standar kecantikan tertentu dan mendorong anak-anak memakai produk semakin banyak secara rutin. Hal ini berpotensi membuat anak-anak merasa kurang percaya diri jika tidak mengikuti tren tersebut.
Selain itu, risiko kesehatan juga harus diperhatikan. Kulit anak-anak yang masih sensitif mungkin tidak cocok dengan bahan aktif tertentu yang dapat menyebabkan iritasi atau kerusakan. Pengawasan orang tua dan edukasi yang tepat sangat diperlukan agar tren ini tidak berkembang jadi masalah serius.
Ringkasan
Tren skincare anak perempuan yang booming di media sosial membawa keuntungan sekaligus tantangan. Meskipun memberikan peluang kreatif dan finansial, fenomena ini juga memunculkan risiko kesehatan fisik dan psikologis bagi anak-anak. Penting bagi kita sebagai orang tua dan masyarakat untuk memberikan perhatian ekstra, mendampingi anak dalam memahami kecantikan secara sehat, dan menyaring informasi yang mereka terima di dunia maya.
FAQ
Apa itu cosmeticorexia?
Cosmeticorexia adalah kondisi obsesi berlebihan terhadap perawatan kulit yang dapat menyebabkan stres dan gangguan psikologis.
Kenapa tren skincare di kalangan anak-anak jadi perhatian?
Karena penggunaan produk yang tidak sesuai usia bisa berisiko bagi kulit dan kesehatan psikologis anak, terutama dipengaruhi oleh tren di media sosial.