7.883 Titik Panas Muncul, Kalbar Perketat Antisipasi Karhutla
Baca juga
- KLH Salurkan Lebih dari 2.000 Tong Sampah ke Kalsel, Dorong Warga Mulai Pilah Sampah dari Rumah
- Pencabutan Izin 28 Perusahaan Pascabencana Sumatera Dipersoalkan, Ini Alasannya
- Volume Sampah di TPA Kopiluhur Cirebon Melonjak 5 Persen Pasca Lebaran 2026, Apa Dampaknya?
- Menhut Raja Juli Antoni Bahas Kerja Sama Karbon dan Konservasi Komodo
- Tragedi di Pesta Pernikahan: Ayah Meninggal Dikeroyok Preman Mabuk di Purwakarta

El Nino ‘Godzilla’ Mengintai, Pengawasan Karhutla di Kalbar Diperketat Sejak Dini
diupdate.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian serius. Bukan tanpa alasan, lonjakan titik panas yang terpantau sejak awal tahun membuat pemerintah bergerak lebih cepat sebelum musim kemarau 2026 benar-benar mencapai puncaknya.
Kementerian Kehutanan kini memperkuat pengawasan karhutla di wilayah tersebut, menyusul prediksi anomali iklim El Nino kuat yang dijuluki “Godzilla” serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kombinasi keduanya berpotensi menurunkan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah di Indonesia.
Ribuan Titik Panas Jadi Sinyal Awal
Hingga 31 Maret 2026, Kementerian Kehutanan mencatat ada 7.883 titik panas di Kalimantan Barat. Angka ini menjadi alarm penting karena titik panas kerap menjadi penanda awal munculnya kebakaran, terutama di wilayah yang rawan saat cuaca kering.
Selain itu, luas karhutla yang sudah dipadamkan mencapai 479,12 hektare. Sebaran kebakaran tercatat di beberapa daerah, dengan Kabupaten Kubu Raya menjadi yang terluas sebesar 131,20 hektare. Disusul Kabupaten Sambas 103,32 hektare, Kabupaten Ketapang 73,30 hektare, Kabupaten Mempawah 47,20 hektare, dan Kota Singkawang 38,50 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan karhutla di Kalimantan Barat sudah terasa sejak awal tahun. Jika kondisi kemarau makin kering, potensi penyebaran api tentu bisa lebih cepat dan lebih sulit dikendalikan.
Personel dan Posko Diperkuat
Untuk menghadapi situasi ini, Kementerian Kehutanan menurunkan 13 regu atau 195 personel Manggala Agni untuk pemadaman dan pengendalian di lapangan. Langkah ini diperkuat dengan aktivasi posko pengendalian karhutla yang berfungsi sebagai pusat deteksi dini, koordinasi, dan respons cepat antarinstansi.
Polisi Hutan Ahli Utama Kementerian Kehutanan, Sustyo Iriyono, menegaskan bahwa pengawasan menjadi kunci agar potensi kebakaran tidak berkembang lebih besar. Menurut dia, pengawasan yang konsisten akan membantu deteksi lebih awal dan mempercepat penanganan di lapangan.
Sementara itu, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Kalimantan, Yudho Mustiko, menyebut Kalimantan Barat termasuk wilayah dengan tingkat kejadian karhutla yang tinggi. Karena itu, penguatan patroli terpadu, pemantauan hotspot, dan pelaporan harian antarunit menjadi bagian penting dari strategi pengendalian.
El Nino ‘Godzilla’ dan Dampaknya bagi Musim Kemarau
BRIN memprediksi anomali iklim El Nino kuat dan IOD positif terjadi pada April hingga Oktober 2026. Fenomena ini berdampak pada berkurangnya hujan di Indonesia dan membuat tanah lebih cepat kering. Dalam kondisi seperti ini, kebakaran hutan dan lahan biasanya lebih mudah muncul dan lebih sulit dipadamkan.
Istilah “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang lebih besar dari biasanya, sehingga efeknya pun bisa lebih luas. Di lapangan, dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan, aktivitas warga, hingga kualitas udara jika asap mulai menyebar.
Karena itu, penguatan pengawasan karhutla di Kalbar tidak hanya soal pemadaman, tetapi juga pencegahan. Pemerintah turut mendorong sosialisasi agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta aktif melaporkan tanda-tanda kebakaran sejak awal.
Kewaspadaan Jadi Kunci Menjelang Puncak Kemarau
Dengan musim kemarau yang diperkirakan makin kering, semua unsur terkait diminta meningkatkan kesiapsiagaan operasional. Kehadiran posko, patroli terpadu, dan sistem pelaporan cepat diharapkan bisa memangkas waktu respons saat api mulai muncul.
Di sisi lain, peran masyarakat juga sangat menentukan. Pelaporan cepat dan kepatuhan untuk tidak membakar lahan bisa membantu mencegah kejadian kecil berubah menjadi kebakaran besar. Dalam situasi seperti ini, pencegahan jelas lebih murah dan lebih efektif dibanding memadamkan api yang sudah terlanjur meluas.
Pengawasan karhutla di Kalimantan Barat kini bukan lagi sekadar langkah antisipasi, melainkan kebutuhan mendesak menghadapi musim kemarau 2026. Semakin cepat potensi terdeteksi, semakin besar peluang kebakaran dapat ditekan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
FAQ
Mengapa pengawasan karhutla di Kalimantan Barat diperketat?
Karena jumlah titik panas meningkat dan ada ancaman El Nino kuat yang berpotensi membuat musim kemarau lebih kering.
Berapa titik panas yang tercatat di Kalimantan Barat?
Hingga 31 Maret 2026 tercatat 7.883 titik panas.
Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu pencegahan karhutla?
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melapor jika melihat tanda-tanda kebakaran.