Komisaris Utama PGN Pasang BBG di Mobil Pribadi, Ini Alasan yang Bikin Banyak Orang Melirik
Baca juga
- Dorong E10, Pertamina NRE Gandeng USGBC untuk Kembangkan Bioetanol
- Blokade Selat Hormuz Bikin Pupuk Langka, Sulfur Tertahan, hingga Mesin MRI Terancam Berhenti
- Dony Oskaria Dorong BUMN Punya Dampak Ekonomi dan Sosial yang Lebih Besar
- Antrean di Ketapang Meningkat, ASDP dan TNI Bersinergi Jaga Kelancaran Penyeberangan
- Ketahanan Pangan Jadi Benteng Utama di Tengah Perang, Iklim, dan Disrupsi Teknologi

Komisaris Utama PGN Pasang BBG di Mobil Pribadi, Ini Alasan yang Bikin Banyak Orang Melirik
Di tengah dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada BBM, langkah kecil dari pucuk pimpinan perusahaan gas negara ini justru menarik perhatian. Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Tony Setia Boedi Hoesodo, memilih memasang bahan bakar gas (BBG) di kendaraan pribadinya sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penggunaan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Aksi tersebut bukan sekadar simbol. Dengan teknologi converter kit, mobil bisa memakai sistem bahan bakar ganda atau dual fuel, yakni BBM dan BBG. Pengemudi dapat berpindah dari satu bahan bakar ke bahan bakar lain hanya dengan menekan tombol di dekat kemudi. Praktis, fleksibel, dan menyasar kebutuhan harian pengguna kendaraan.
BBG Dipilih karena Hemat dan Lebih Stabil
Tony menjelaskan bahwa penggunaan BBG dinilai sebagai pilihan cerdas untuk mobilitas sehari-hari. Selain menawarkan penghematan biaya, harga BBG disebut lebih terjangkau dan stabil, yakni Rp4.500 per liter. Dari sisi jarak tempuh, BBG juga memberikan daya jelajah yang lebih jauh, sehingga cocok untuk pengguna yang ingin efisien tanpa harus sering mengisi bahan bakar.
Tak hanya soal biaya, BBG juga disebut lebih ramah lingkungan dibandingkan BBM. Karena itu, pemanfaatannya dinilai bisa menjadi salah satu langkah sederhana untuk mendukung transisi energi yang lebih bersih. Dalam konteks yang lebih luas, penggunaan BBG dapat membantu memperkuat ketahanan energi nasional dengan mendorong sumber energi alternatif yang tersedia di dalam negeri.
Pemasangan Dilakukan dengan Standar Keselamatan
Proses pemasangan converter kit BBG pada kendaraan Tony dilakukan oleh teknisi bersertifikasi dan mengikuti standar keselamatan yang ketat. Mulai dari penempatan tabung hingga pengaturan aliran bahan bakar, semua dikerjakan dengan prosedur yang diperhatikan secara detail.
Hal ini penting karena penggunaan teknologi BBG sering kali menimbulkan pertanyaan soal keamanan. Dengan pemasangan yang sesuai standar, PGN ingin menunjukkan bahwa teknologi ini sudah siap digunakan lebih luas oleh masyarakat. Pesan yang ingin disampaikan jelas: BBG bukan teknologi coba-coba, melainkan solusi yang bisa diterapkan secara aman jika instalasinya benar.
PGN Dorong Ekosistem BBG Lebih Luas
Layanan BBG PGN saat ini dijalankan oleh anak usaha, PT Gagas Energi Indonesia. Direktur Utama Gagas, Santiaji Gunawan, menyebut dukungan dari Komisaris Utama PGN menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem BBG di Indonesia.
Menurutnya, kerja sama antara Gagas dan Komunitas Mobil Gas (Komogas) juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem tersebut. Bentuk kolaborasinya meliputi penyediaan bengkel keliling hingga edukasi kepada masyarakat soal keamanan dan efisiensi penggunaan BBG.
Jika dilihat dari dampaknya, pendekatan ini tidak hanya soal promosi produk, tetapi juga membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat. Semakin banyak pengguna yang mencoba BBG, semakin besar pula peluang terbentuknya pasar yang lebih sehat untuk energi alternatif. Di sisi lain, edukasi publik menjadi penting agar masyarakat tidak hanya tertarik karena harga, tetapi juga memahami cara pakai dan manfaat jangka panjangnya.
Momentum untuk Mendorong Perubahan
Langkah Tony Setia Boedi Hoesodo bisa dibaca sebagai contoh kepemimpinan yang memberi dorongan langsung pada agenda energi nasional. Ketika figur di level atas ikut menggunakan BBG di kendaraan pribadi, pesan perubahan menjadi lebih kuat dan mudah diterima publik.
Meski begitu, perlu diingat bahwa adopsi BBG secara luas tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, layanan yang konsisten, serta sosialisasi berkelanjutan. Tanpa itu, masyarakat mungkin masih ragu untuk beralih, meski secara biaya dan efisiensi BBG menawarkan keuntungan yang menjanjikan.
Kesimpulannya, pemasangan BBG pada kendaraan pribadi Komisaris Utama PGN bukan sekadar tindakan simbolik. Langkah ini menjadi penegasan bahwa energi alternatif seperti BBG punya peluang besar untuk mendukung penghematan biaya, kenyamanan berkendara, dan ketahanan energi nasional jika ekosistemnya terus diperkuat.
FAQ
Apa itu BBG pada kendaraan?
BBG adalah bahan bakar gas yang bisa digunakan pada kendaraan dengan sistem dual fuel bersama BBM.
Berapa harga BBG yang disebut dalam artikel?
Harga BBG yang disebut adalah Rp4.500 per liter.
Siapa yang mengelola layanan BBG PGN?
Layanan BBG PGN dijalankan oleh anak perusahaan, PT Gagas Energi Indonesia.