Rupiah Melemah ke Rp 17.002 per Dolar AS, Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Baca juga
- Pedagang Surabaya Mengeluh, Harga Plastik Naik Sampai 40 Persen!
- BRI Raih 3 Penghargaan Dealer Utama 2025, Perkuat Pasar Keuangan Indonesia!
- Perajin Tahu Serang Terdampak Kenaikan Harga Kedelai, Harga Produk Ikut Meroket
- OJK Tegas Beri Sanksi Manipulator Pasar Modal, Denda Menggapai Rp96 Miliar di Kuartal I 2026
- Pembatasan BBM 50 Liter: Apa Dampaknya bagi Dunia Usaha? Ini Permintaan Apindo

Nilai tukar rupiah kembali mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Kamis sore, tercatat melemah sebesar 19 poin atau 0,11 persen sehingga berada di level Rp 17.002 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan eksternal yang berasal dari ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah dan penguatan dolar Amerika Serikat.
Tekanan Geopolitik dan Penguatan Dolar AS
Menurut pengamatan Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor global. Salah satunya adalah eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran yang menimbulkan ketegangan di Timur Tengah, kawasan yang sangat krusial sebagai jalur pengiriman minyak dunia.
"Pernyataan Presiden Donald Trump tentang rencana meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga pekan ke depan menambah ketidakpastian pasar," jelas Amru. Konflik yang memicu kematian sejumlah anggota militer AS ini menyeret harga minyak dunia naik, sehingga memberikan tekanan lebih pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain geopolitik, dolar AS juga mengalami penguatan, yang memperbesar tekanan terhadap rupiah. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi valuta asing dan memberi pengaruh negatif pada mata uang domestik.
Dampak Harga Minyak dan Pengiriman Komoditas
Kenaikan harga minyak sebagai salah satu efek dari konflik Timur Tengah turut memperumit kondisi pasar keuangan global. Sebagian besar pengiriman minyak dunia melewati Selat Hormuz, jadi setiap gangguan di sini langsung mempengaruhi pasokan energi secara global, yang otomatis berdampak pada iklim ekonomi dan nilai tukar.
Faktor Domestik dan Kebijakan Bank Indonesia
Di tengah ketidakpastian global tersebut, kondisi domestik menunjukkan beberapa tanda positif. Inflasi Indonesia yang tercatat turun ke angka 3,48 persen secara tahunan menggambarkan tekanan kenaikan harga mulai mereda. Hal ini menjadi salah satu faktor penguat stabilitas ekonomi dalam negeri.
Bank Indonesia juga mengambil langkah-langkah untuk menjaga likuiditas valuta asing melalui instrumen SVBI dan SUVBI. Meski demikian, Amru menilai dukungan dari kebijakan ini masih kalah dominan dibanding pengaruh faktor eksternal dalam jangka pendek.
Sementara itu, data ketenagakerjaan dan kebijakan suku bunga dari Federal Reserve AS menjadi sorotan pasar global selanjutnya yang berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah ke depan.
Kurs Rupiah Versus Dolar Menyentuh Level Terkini
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dipantau Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan serupa, yakni berada pada posisi Rp 17.015 per dolar AS, naik dari Rp 17.002 pada sesi sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini menjadi sinyal bagi para pelaku pasar dan masyarakat untuk mencermati dengan seksama perkembangan situasi geopolitik serta kebijakan moneter global yang dapat berdampak langsung terhadap daya beli dan stabilitas ekonomi Indonesia. Ke depan, ketegangan di Timur Tengah dan langkah kebijakan Bank Sentral AS akan menentukan arah nilai tukar rupiah.
FAQ
Apa yang menyebabkan rupiah melemah hari ini?
Rupiah melemah terutama akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS.
Bagaimana pengaruh konflik Timur Tengah terhadap rupiah?
Konflik meningkatkan harga minyak dan menghambat pengiriman melalui Selat Hormuz, sehingga memberi tekanan pada mata uang emerging markets termasuk rupiah.
Apa langkah Bank Indonesia dalam menghadapi pelemahan rupiah?
Bank Indonesia menggunakan instrumen SVBI dan SUVBI untuk menjaga likuiditas valuta asing, meskipun dampaknya masih kalah dibanding faktor eksternal.